Kita Pasti Bertemu kembali…. (Part1)
Bunda…
bulan kemaren Aflah genap 1 tahun.. tepatnya tanggal 27 Juni.
Sekarang Aflah sudah bisa berdiri sendiri lho…
Aflah dibeli’in Abi kue ulangtahun. Rasanya enak, ada Narutonya kesukaan Aflah. Bunda mau ….???
sekarang Aflah lagi latihan berhitung ama Abi dan belajar nyanyi “burung kakaktua” dan “topi saya bundar”.
Aflah lagi pilek nih.. ketularan ama Abi.. huuuhuhu..
Lagian siy.. abi lagi pilek sering nyiumin Aflah n melukin Aflah kalo bobo..
Aflah juga bandel siy.. maunya minta gendong ama Abi mulu.. kadang kita berdua digendong lo ama Abi…
Bunda istirahat yang tenang disana ya… Aflah do’ain moga Bunda senantiasa dalam rahmat Allah..
Hallo Bunda.. ini Najwa….
yang biasa bunda panggil Wawa…
Wawa seneng banget diberi nama itu “Najwa Asyifa Candra Khairunnisa”
Nama yang indah bunda..
Bunda.. kemaren tanggal 19 Juli 2009 Wawa genap 2 tahun…
kita makan bareng di D’Cost bareng Bunda-bunda tetangga kita…
Bunda-bunda yang juga sayang ama Wawa dan dede Aflah…
Jadi Tahun ini abi ga beliin kue ulang tahun.
Kemaren Wawa dapet banyak kado juga dari bunda-bunda ada yang kasih baju bagus dan tas warna pink kesukaan wawa.
Minggu ini wawa kok males makan ya … tapi gantinya wawa minum susu banyak.. trus ngemil roti sobek.. ama puding…
hehehe….
Bunda disana baik-baik ya … wawa mo belajar sholat ma abi…
mo belajar berdo’a ama abi untuk do’a in bunda….
Wawa Janji akan jadi yang terbaik …
……..Seandainya Aku tahu…
Terima kasih atas semuanya
3 tahun kita selalu bersama
bercanda…
bercerita…
perhatianmu…..
rasa sayangmu….
cemasmu….
gelisahmu…
sangat indah ….
terkenang walimah sederhana kau ikhlas menerimanya…
bersamaku kau jalani sisa hidupmu…
Ternyata Allah sangat sayang padamu, sehingga lebih cepat kau di sisi-Nya…
kau titipkan amanah kepada ku,
dan akan tetap aku jaga dengan segenap kemampuanku…
Semoga mereka menjadi anak soleh dan solehah
yang selalu mendo’akan orangtua dimana itu adalah bekalmu disana…
Ya Allah ..
Lapangkanlah kuburnya…
jauhkanlah dari siksa kuburnya…
dan jadikanlah khusnul khotimah …
Maafkanlah segala dosa-dosanya baik sengaja ataupun tidak…
Leburkanlah Ya Allah….
Terima lah semua amal kebaikannya Ya Allah…
Semoga Ilmu yang telah dia berikan kepada anak didiknya
selalu bermanfaat bagi yang menerimanya
sehingga terus mendapatkan kebajikan-kebajikan yang tiada akhirnya….
Andai ku tahu…
aku takkan pernah meninggalkanmu sedetikpun
Andai ku tahu
takkan ku lalaikan apapun maumu…
Andai kutahu…..
takkan kubiarkan kau letih membantuku..
………Seandainya Aku tahu
Di sini Engkau beristirahat dengan tenang.
Panas sedikit menyengat di kulit..
Dengan pohon Kamboja yang melindungi kami diantara gundukan makam-makam tua…
Ku melangkah ke satu makam yang masih baru..
Ya… terbilang baru karena baru berumur 2 minggu…
Assalamu’alaikum ya Ahli kubur Santi Rahayu…. salam ku sambil kupegang nisannya….
Nisan ini terukir namamu
SANTI RAHAYU Binti TARYANTO
lahir 17-08-1981
Wafat: 03-12-2008
Engkau masih muda sekali dengan dua orang anak yang engkau lahirkan…
Engkau telah mempercayakanku sepenuhnya untuk menjaga dua buah hati kita…
Hati mana yang tak pilu, engkau terbujur kaku didalam tanah ini …
Semoga cahaya kebaikanmu di dunia sebagai penerangmu disini..
Semoga amal ibadahmu sebagai temanmu disini…
Semoga Do’a kami akan melapangkanmu dialam ini..
Semoga pengorbananmu mendapatkan tempat terbaikmu disini….
Setiap jiwa pasti akan merasakannya.
Merasakan satu hal yang mereka sebut sebagai kematian.
Setidaknya memang begitulah yang Allah katakan dalam firman-Nya.
Dan kamipun menyadari sepenuhnya.
Kupegang Nisan ini seakan merasakan memegang keningmu….
Do’a dan harapan ku panjatkan untukmu…
Ikhlas ku rela mendahului kami agar kau tenang
Semoga anakmu kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah
Dimana akan menjadi penyelamat kita di akherat nanti..
InsyaAllah….
Ku beranjak dari tempatku…
Kulangkahkan kaki ini dengan segala harap dan asa…
Melangkah dalam rahmat dan ridha-Nya.
Semoga dipermudah segalanya…di ringankan segala urusannya…
Aku mengharapmu yaa Rabb …
Untuk hidup yang lebih baik. InsyaAlloh …
Cirebon, 11:30AM, 25 Dec 08
semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
Cirebon, 3 Dec 2008
Pagi itu raut muka kembali bersinar…
rasa sakit kau simpan agar kekhawatiranku membias…
Selamat pagi sayang….
sembari kukecup kening yang dingin itu…
kau paksakan semuanya kembali pulih…
kau paksakan memegang dan mencium tanganku dengan tangan yang bergetar…
maafkan abi, bunda…
sesaat Hp ku berbunyi, nampak profile ibu di display..
” ada apa mak..(ibu)..”
” Santi gimana ..???”
” Udah baekan mak..” sudah banyak perkembangannya”
” Can,… Aflah demam tinggi…. bisa ke Jakarta hari ini, can..?
besok ke Cirebon lagi …”
” inngih mak..”
Aflah anak keduaku demam tinggi, cemas dan bingung kurasakan…
“Bunda.. Aflah sakit demam, abi boleh pulang sebentar…?
“Besok pagi Abi ke sini lagi…Boleh ..??
“Boleh…” itulah ucapan yang aku dengar.. kuliat kecemasan didinginnya raut muka dan kecemasan hatimu..
Kucium kembali dahi istri yang mulai berkeringat dingin…. kugenggam erat tanganmu..
Inilah saat yang sangat di sukai rasul kita… bermesraan dengan istri adalah sadakah ..
saat tangan suami istri saling menggenggam InsyaAllah dari sela-sela jari bergugurlah dosa-dosa kita…
Saat berpamitan kau paksakan untuk memeluk dan mencium tanganku..
dengan berbisik..
“maaf ya abi,….” hanya itu yang aku dengar…
tak kurasa titik-titik air mataku bergerai..”
Iya … abi juga minta maaf ya.. bunda….
Abi .. ke jakarta dulu …. besok abi pasti kecirebon lagi…
Anggukan dan tatapan mengiringiku meninggalkan kamar perawatan… walau hati ini sedikit resah…
Resah, khawatir, bingung….
Disisi istriku terbaring lemah di Rumah sakit Cirebon…
di sisi lain puteraku demam tinggi…yang mana belum kuketahui persis keadaanya…
Jam 7 malam ku sampai jakarta…
kupeluk erat anak kedua ku…
badannya panas dan rintihan terus kau ucapkan…
pujian dan do’a terus kupanjatkan untuk-MU…
memohon… menangis… hanya Engkaulah sang maha Penyembuh….
Alhamdulillah jam 9 malam Aflah sudah tenang dan tertidur… walau masih sedikit demam…
ku peluk dan kuliat kedua anak ku yang tertidur pulas…
Terima kasih Ya Allah…. kau telah memberikan buah hati yang sangat cantik dan tampan…
kukecup kening putri pertamaku Najwa dengan barisan do’a agar kelak menjadi mujahidah yang berkualitas…
menggeliat tubuhnya karena kecupanku… seakan merasakan akan kehadiranku….
Tak lama kemudian… Hp ku berbunyi kali ini dari Ayah Istriku…
“Ya pak.. ada apa….”
“Candra… Santi sekarang kritis…”
Terperanjat ku dari tempat tidurku….
“Dokter ada di situ pak…?”
“Iya… sekarang sudah di tangani..”
Cemas,…khawatirr,…Bingung,…. seakan menyerah dan menghantam tubuhku dari segala arah…
Berdo’a .. berdo’a dan terus ku berdo’a …
Semuanya ku serahkan kepadamu ya Allah…
Engakulah sang maha Penyembuh…
Engakulah sang maha Keputusan…
Jika Engkau berkehandak menyembuhkan maka sembuhkanlah segera ya Allah….
Hamba tidak pernah tahan melihat orang tersayang hamba menggigil, meradang, kadang menangis menahan sakit…
Jam 10 malam kembali ku hubungi Ayah istriku…
Sekarang Istriku dalam keadaan taksadarkan diri….
Istriku dalam keadaan koma….
Ya.. ALLAH…. jangan kau siksa istri hamba ini ya Allah…
Ya Allah… jika engaku belum menghendakinya…Sembuhkanlah kembali istriku ….
Jika engaku sayang padanya… Ambilah ya Allah dalam keadaan khusnul khotimah ..
Ambilah dengan sebaik-baik hambaMu ya Allah….
segala do’a dan pujian terus mengalir di hati….
memohon yang terbaik bagi kami dengan kuasa-Nya…
kurang dari satu jam… Dokter yang merawat istriku menelpon…
Asaku mulai timbul… semoga semuanya lancar….
“Hallo.. Dok..”
“Pak candra… mohon maaf… Istri bapak sudah tidak ada…
kami telah berusaha semampu kita pak…”
badanku tak terasa… Hatiku bergunjang…. kosong… semuanya kosong…
dengan lirih kuucapkan.. Innalilahi wa innalilahi roji’uun…
“Terima kasih Dok…” seraya tubuhku melayang tak tersasa…
ku tersungkur ditubuh Ibuku dengan dengan tangisan yang tak pernah ku lakukan semenjak Meninggalnya Ayahku..
Tangisan kehilangan… Tangisan yang terbendung…
Rasa bersalah menyelimuti diri…
Disaat istri sedang berjuang dengan maut… aku suaminya tak ada disampingnya….
Ya Allah… Apakah ini yang terbaik bagi kami ya Allah….
Jika Iya.. Saya dan Anak-anak saya akan ikhlas dengan kejadian ini…
Tapi tabahkanlah kami ya Allah…
Kuatkan hati kami ya Allah…
Santi….
Ternyata…. Ciuman itu adalah ciuman terakhir darimu….
Ternyata…. Senyuman itu adalah senyummu yang terakhir untukku…
“maaf ya abi”….iya Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang keluar dari sudut bibirmu..
Terima kasih Santi…istriku
Kau telah memberikan dua buah hati sebagai penggantimu…
Kan kujaga dia dengan segala kemampuanku…
kau telah menemaniku disaat senang dan sedih…
melayaniku… menasehatiku…
membangkitkanku pada saatku jatuh….
memberiku semangat saat ku terpuruk…
Allah sangat sayang padamu sehingga kau lebih cepat disisiNya.
Semoga kau lapang dialam-Nya…
mendapatkan tempat yang terbaik…
jauh dari siksa kuburmu…
Abi akan mencoba Ikhlas agar kau tenang disana…
semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
Abi sangat sayang Bunda…..
Terima kasih Bunda….
Musibah … atau Peringatan…
Segala sesuatu pasti akan kembali kepada sang Pemiilik…
Musibah selalu datang dan terjadi kepada setiap umat manusia di dunia ini. Tinggal bagaimana kita menyikapi dari pada musibah tersebut.
Bisa Jadi Musibah ditujukan untuk menguji keimanan (QS 29: 2-3). Sebab, seorang yang mengaku beriman kepada Allah belum tentu sungguh-sungguh beriman. Karenanya, Allah perlu menguji mereka yang mengaku beriman dengan sesuatu.
Atau bahkan Musibah terjadi sebagai pengalaman dan pelajaran yang berharga agar kita lebih berhati-hati, lebih terencana dalam bertindak dan bersikap.
Bermula mencoba mencari tambahan rejeki dengan membuka toko busana muslim, aku memberanikan diri untuk menyewa toko sekitar 25 juta pertahun.
Hari pertama pengunjung masih sepi dan tanpa ada pembeli satupun. Setidaknya aku bersyukur karena masih ada juga yang mengunjungi tokoku. Hari kedua dan ketiga dan keempat lebih baik karena ada beberapa pembeli yang bersedia membeli daganganku.
Musibah terjadi pada saat hari kelima daganganku. Pegawaiku kena hipnotis dari salah satu pengunjung, raib lah uang daganganku ratusan ribu.
Panik, takut dan berbagai macam pikiran berkecamuk dalam pikiranku.
Istriku tak kalah paniknya dan kami sepakat untuk menutur toko yang baru 5 hari buka. Dan memang daerah yang kami sewa tidak kondusif, tidak aman dan rawan.
Terpaksa harus kami oper kontrak toko yang sudah kami renov…
Allah telah memberikan cobaan kepada keluargaku…
sesaat aku menyalahkan diri sendiri…
Sesaat aku berandai-andai .. coba saja kami ga nekat buka toko..
coba kami buka d rumah saja …
bisikan-bisikan setan terus membuat penat ….
Astagfirullah.. Sadar kami takkan bisa mengulang kembali masa yang telah berlaku..
Allah telah memberikan suatu hikmah yang luarbiasa kepada kami, suatu pelajaran yang sangat berharga kepada kami. Agar kami lebih berhati-hati dan merencanakan segala hal dengan matang dan memikirkan resiko-resiko yang kemungkinan terjadi.
Ya Allah ku tetap bersyukur kepada-Mu ..
Kau telah mengingatkan ku untuk takut kepada-Mu..
Tak kan ada makhluk didunia ini yang mampu mengalahkan-Mu…
Kami akan selalu berusaha sepenuh kekuatan yang kami miliki..
Untuk bangkit… dengan Prinsip
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memproleh selain apa yang telah di usaha kannya. (QS.53:39)”
Ya Allah mudahkanlah langkah hamba-Mu ini.. ya Allah
Maafkanlah segala kekurangan dan kesalahan kami yang tiap hari kami lakukan baik dalam keadaan sadar maupun tak sadar……….
Bekerja keraslah kamu untuk duniamu seolah olah kamu akan hidup selama lamanya, bekerja keraslah untuk akhirat kamu seolah olah kamu mati esok hari. HR Baihaqi.
Salam,
Abu Najwa
Mau kemanakah rejekiku…
Allah maha pemberi rejeki dan maha pembolak-balik hati.
Ku serahkan segalanya waktu dan hariku
Berdo’a dan memanjatkan pujian kepada-Mu
Saat bimbang yang kurasa ini..
Agak sesak memang dusta yang dirasakan dari seorang yang kita cintai.
kejadian yang mungkin membuat ku kesal tapi percuma ku salahkan.
Hikmah dan pelajaran semoga membuat sang “Cinta” mengerti
Belajar dan berpikir sejenak tanpa emosi
Kuharap “Cinta” selalu ikhtiar dan istiqomah
dengan kebenaran dari Ayatullah yang abadi
Selalu tunduk merintih dan dan muhasabah
kala malam yang hening nan haru.
Ya Allah……
Apabila Rejekiku ada didalam Bumi
Maka keluarkanlah kepada kami
Apabila Rejekiku ada diatas Langit
Maka Turunkanlah kepada kami
Ya Allah……
Apabila Rejekiku Haram
Maka sucikanlah rejeki kami ini
Apabila Rejekiku jauh dari kami
Maka Dekatkanlah kepada kami …
Ya Allah Ya Tuhan kami,
Anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami)
Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
kan ku junjung amanah-Mu….
![]()
Alhamdulillah… kami akan mendapat kembali momongan… walau jarak anak kami terpaut pendek.
Tak pantas kalo hamba ini mengeluh mengaduh dengan segala nikmat yang selama ini Engkau berikan kepada kami.
Anak dan Istri adalah amanah sekaligus ujian yang di berikan kepada para suami sang pemimpin keluarga.
Anak dan Istri adalah tanggung jawab, titipan Allah.
Mereka adalah amanah yang harus dijaga : dipelihara kehidupan mereka di dunia dan nasibnya kelak di akhirat.
“Hai orang-orang beriman, jagalah diri kamu dan keluargamu dari sentuhan api neraka”
(Q.S. al-Tahrim : 6).
aku cinta keluargaku karena Allah maka
Aku akan berusaha berdiri tegak dengan kedua kakiku …
Aku akan berusaha mengangkat tinggi dengan otot-otot lenganku …
Aku tak peduli dengan keringat yang mengalir membasahi permukaan kulitku …
Aku akan menjaga hati dengan kesabaran dari ruang rasa ini …
Dihadapan berbagai keadaan akan kita lalui.
Mulai dengan mencari kontrakan baru yang lebih besar dan lebih murah,
memberi semangat kepada istri tercintaku,
bermain dengan putri cantikku yang sudah mulai licah.
Dengan ihtiar dan bersabar kan kubangun keluarga sakinahku ….
Bersama-Mu ya Allah aku berserah diri…..
Dengan-Mu ya Allah aku memohon pertolongan….
Hanya kepada-Mu ya Allah aku bersujud ….
Engkaulah yang selalu memberi nikmat dan rejeki kami ….
Kumohon ya Rabb… ringankanlah langkah ini ….
amien…amien… ya rabbal alamien….
Maafkan aku, bu…
DEG… hati ini terasa kaget sekali,
Saudara kembarku baru saja SMS.
Bahwa ibu keliatan jengkel dan cape ma kelakukan ku dan istriku. Tapi, perlakuan yang mana….
Ini lah kelemahan pada diriku yang sangat kurang peka terhadap reaksi di sekelilingku… dan memang sifatku..
Apakah gara-gara anakku yang rewel dan beliau mempersalahkan ari-ari anakku yang aku pendam tidak memakai lampu.
Apakah tadi malam ketika aku menanyakan kenapa beli garam pada saat anakku rewel, dan kemudian beliau menebarkannya di sekiling rumahku.
Ibu… maafkanlah anakmu ini …
Anakmu tak bermaksud menyakiti hati ibu,… tapi anakmu ingin mengajak ibu berpikiran realitis dan syar’i menurut al-qur’an dan hadist.
Ya.. Allah… bukakanlah hati-hati kami ini ya.. Allah…
Bukakan pintu pikiran kami ini…
Ibu… jika kau jengkel padaku … hati ini serasa mau pecah…
aku ga mau engkau acuh pada kami…
Maafkan aku ibu…
aku sayang kamu ibu….
Ibu,….
Anakmu ini sedang belajar memberi yang terbaik buat anak sang buah hati ini.
Aku ingin memberi yang terbaik buat keluarga baruku..
walaupun sangat aneh dan kurang engkau mengerti jika di bandingkan dengan adat dahulu
Ya Allah….
Berikanlah kemudahan pada hambamu ini dalam menyampaikan amanahmu
Berikanlah pengertian yang halus kepada orang tuaku akan ajaran islam yang indah ini…
Bukakanlah hati ini untuk menerima bisikan yang terbaik untuk langkah ini
Ya Allah…
Yang memiliki hati ini…
Janganlah kau bimbangkan hati ini
Janganlah kau bolak-balikkan iman ini
Janganlah kau hitamkan perasaan ini
Janganlah kau keraskan hati ini ya Rabb…
Berikanlah petunjuk-Mu kepada kami…
Tunjukilah bahwa kebenaran jelas sehingga kami dapat melihat bahwa itu adalah benar….
Tunjukilah bahwa kesalahan jelas sehingga kami dapat menghindari kesalaan itu…
Ya.. Allah…
Hanya kepada-Mu lah kami memohon ampun
Hanya kepada-Mu lah kemi meminta petunjuk
Untuk itu terima dan kabulkanlah permintaan hamba-Mu ini ya Allah….
Amien ya Rabal alamien….
dari Kami Untuk Anakku tersayang….
Anakku yang kusayangi………
Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua,
cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku
Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan….…
Jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri……… sabarlah !
Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu,
ketika kau masih kecil.
Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali,
jangan menghentikanku! Dengarlah aku !
Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang,
dari malam yang satu ke malam yang lain hinga kau tertidur.
Dan aku lakukan itu untukmu !
Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan.
Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.
Melihat Ketidaktahuanku terhadap teknologi yang baru, jangan menertawakanku,
tetapi berikan aku sedikit waktu untuk memahaminya,
seperti ketika dulu aku mengenalkanmu pada sesuatu yang baru.
Aku mengajarimu banyak hal ….
Cara makan yang baik……
cara berpakaian yang baik…….
berperilaku yang baik………..
bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan…..
Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan,
beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku,
karena yang penting bagiku adalah….
aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.
Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku !
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.
Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku,
untuk bergerak seperti sebelumnya…..
Bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku,
mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu……
Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup…………,
ketika aku ingin mati…..,
jangan marah…,
karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu,
kita tidak benar-benar “hidup” lagi,
kita hanya “tidak mati”.
Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat,
aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.
Kau tak usah merasa sedih,
tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usia ku yang sudah bertambah tua.
Kau harus ada didekatku,
mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu,
seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.
Bantulah aku untuk berjalan,
bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintanmu padaku.
Aku mencintaimu anakku………
Ayahmu, ibumu
Oh..Ibu….
Aku sibuk mencari album kenangan keluargaku bolak balik ku bongkar susunan rak bukuku dan almari pakaianku.
Semua aku telusuri tak telewatkan sejengkalpun.
Entah mengapa aku ingin sekali melihat-lihat album kenangan kesayanganku.
Akhirnya ku temukan juga album berwarna kuning gading berpita merah.
Banyak debu menyelimuti cover album ini, karena memang lama aku tak menyentuhnya.
Perlahan ku buka lembar demi lembar, tanpa sadar ku tertawa sendiri ketika kulihat gambar waktu aku masih kecil bersama ayah dan ibuku. Oh iya aku dilahirkan kembar dengan adik perempuanku.
Orang menyebutnya kami kembar dampit karena kita tidak ada kemiripan dan dulu waktu kandungan kami ada dua kandung telur di dalam rahim ibuku(Aku lebih ganteng dari adikku dan dia lebih cantik dari diriku hehehe
)
Dan pikiranku melayang seakan aku merasakan kehidupan masa kecilku.
Kembali ku rasakan perhatian sang ibu yang terus tiada henti melatih ku berjalan,
mendiamkanku ketika ku menangis,
menyuapi dengan sabar tak kenal letih,
menggendongku memutari komplek yang kami tinggali,
mengajakku bermain agar aku tidak rewel.
Kupandangi wajah penuh kasih ibu dan ayahku saat mengapit aku dan adik kembarku.
Duh… rasanya ingin mengulang kembali, merasakan hangat pelukan ciuman manjanya.
Aku ingat pada saat itu kita harus menunggu tukang photo keliling melewati depan rumah, maklum di kampung jaman itu camera adalah barang yang sangat langka bagi kami.
Dengan uang sisihan belanja ibu ibu rela membayarnya kepada juru foto tersebut.
Demi apa??
Tentu saja pasti demi kesenangan hati kami.
Kini kuperhatikan gambar fotoku yang sudah beranjak dewasa, bersama dengan teman-temanku.
Ternyata banyak waktu yang ku lakukan dengan teman-temanku.
Ada penyesalanan yang menyelimuti diri, aku sering meninggalkan ibu dan ayahku serta keluargaku untuk bermain dengan teman-temanku.
Sering pula aku membuat jengkel ayahku demi keegoisan diri dengan memakai motor seenaknya tanpa memikir jam kerja Ayahku.
Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu itu,
ke masa biru ke masa bersemi ke masa kecilku.
Ku teringat jerih payahnya untuk menutupi biaya kuliahku di jakarta yang pastinya tidak
memakan biaya sedikit.
Terpaksa “sikuda besi” milik ayahku dijual guna membayar uang kuliah pertamaku.
Untuk sehari-harinya ibu ku harus menerima order katering yang sangat memakan tenaganya.
Bayangkan jam 4 pagi sudah bercampur baur dengan para penjual sayur di sebuah pasar
tradisional di Semarang yang letaknya 5-7 Km dari rumah kami.
Belum lagi bawaan belanjaan sayuran yang bisa mencapai 10- 20 kg.
Peluh bercucuran saat mengaduk dan mengangkat masakan.
Tak terasa air mata ini menitik kala teringat hal itu.
Usaha yang sangat luar biasa dari ibuku demi kelangsungan kuliah ku di Jakarta.
Tanpa ada keluh maupun kesah darinya.
Tanpa kenal lelah beliau selalu menutup kekurangan perekonomian kami.
Dan menutup segala kekurangan itu di hadapan kami, agar kami tidak cemas maupun gelisah.
Pada kenaikan tingkat semuanya berubah, aku keluar kuliah di sekolah mesin.
Hati, rasa, pikiran berkecamuk jadi satu.
Hancur sudah semua impianku saat itu.
Aku tak tahu harus bagaimana.
Aku beruntung mempunyai seorang Ibu yang sangat perhatian padaku.
Hanya beliaulah yang membuat hati ini menjadi ghirah kembali.
Karena perhatiannya yang membuatku bangkit kembali.
Nasehat-nasehatnya membuatku tegar kembal
Puing-puing kehidupanku kembali di satukan dengan penuh kasih dan kesabarannya.
Kumulai kembali kuliahku dengan segenap asa dan semangat yang ada.
Ku coba bertahan coba berjuang dari segala kelemahanku.
Hanya satu harapan yaitu membuat ibu tersenyum.
Tak terasa kini ku telah memiliki keluarga baru, tapi air perhatian sang ibu tak pernah
kering di relung hatiku.
Berbagai semangat trus diberikan kepadaku.
Kau terus meyakinkanku bahwa “aku pasti bisa”.
Terkutuklah bila aku melepaskan cintamu itu, melupakan pengorbanan yang telah dilakukannya.
Tak ada kata mengeluh yang terucap di bibirnya, walau kau lakukan seorang diri tanpa Ayah
yang mendampingi.
Kau memang pelita hati kami.
Sendiri engkau arungi kehidupan kami.
Sendiri engkau bimbing kami.
Sendiri engkau korbankankan seluruh harta untuk kebahagiaan kami kelak.
Guratan-guratan kini muncul di ujung pipimu.
Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan kesehatan.
Aku harap aku akan selalu ada dikala hatinya mendung.
Aku harap aku akan selalu ada dikala kegundahannya.
Semoga Allah selalu memberikan ampunan kepada seseorang yang telah sangat berjasa dalam hidupku.
Semoga Allah memberikan lebih banyak waktu agar aku dapat lebih lama memelukmu.
Semoga Allah mengijinkan aku untuk mendekap erat kehangatan sayangmu
Semoga Allah memberi kesempatan untuk tetap bersamamu…lebih lama lagi…
Doaku selalu mengiringi langkahmu..
Doaku selalu membuat kau bahagia…
Doaku selalu mengaharap kau tenang…
Terdengar sayup-sayup di ujung telinga ini.
Sebuah lagu yang menggetarkan hati.
Tangan Halus Dan Suci
Tlah Mengangkat Diri Ini
Jiwa Raga Dan Seluruh Hidup
Rela Dia Berikan
Oh bunda Ada Dan Tiada Dirimu
Kan Slalu Ada Di Dalam Hatiku …
I Love U mom……
-
Recent
- .: Gundahnya seorang Ayah :.
- Kita Pasti Bertemu kembali…. (Part1)
- Jika aku mencinta……
- … adalah hakmu, anakku
- Najwa dan Aflah adalah bagian dari hati ini.
- ……..Seandainya Aku tahu…
- Di sini Engkau beristirahat dengan tenang.
- semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
- Bocah Misterius
- Mensikapi Pengkritik
- Bersabar Menunggu Panggilan
- Musibah … atau Peringatan…
-
Links
-
Archives
- September 2009 (1)
- July 2009 (1)
- April 2009 (2)
- March 2009 (2)
- January 2009 (2)
- September 2008 (1)
- August 2008 (3)
- June 2008 (1)
- May 2008 (2)
- April 2008 (1)
- March 2008 (2)
- February 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS