Renungan Malam Pertama
Satu hal yang akan menanti kita…
Indahnya malam pertama…
Malam yang tak pernah kita sangka-sangka
Malam dimana hanya terjadi satu kali di kehidupan kita
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara….
isak tangis istri kita… suami kita.. anak-anak kita ..
tak seorangpun dapat menolong ….
Dihari itu ..
kita sangat dan sangat dimanjakan …
Badan kita di bersihan
Dimandikan dengan rasa haru …
Dengan ikhlas kita dibersihkan olehnya …
Saat – saat terakhir menyentuhnya …
Itulah sosok Kita….
Itulah jasad Kita waktu itu….
sosok yang tak dapat berbuat apa-apa…
sosok yang lemah tak berdaya….
Apa jadinya jika kita tak mempunyai seseorang yang kita kasihi…
Apa jadinya jika kita hidup tidak ada yang peduli …
Apa jadinya jika tak ada yang merawat kita menghadap Sang Khalik…
Hanya Kain putih yang membawamu serta…
Hanya kapas putih yang menyumpal di setiap lubang tubuhmu…
Hanya keranda yang bisa mengantarmu…
Ketika kau di hadirkan di liang lahat…
terkubur sendiri didalam tanah nan liat…
tak satupun yang menemanimu..
tuk mempertanggung jawabkan segala lakumu..
Malam pertamapun datang….
cacing nan gemulai menyentuh ..
dari atas hingga ujung kaki…
Menyapa .. .
tersenyum …
seolah meledekimu …
Mana pangkatmu di dunia ..
Mana hartamu yang sering kau kejar…
Mana kecantikanmu yang selalu kau banggakan…
Bisakah kau lawan ..
Bisakah menolongmu …
Bisakah menghindar darinya…
Masihkah kau berjalan dengan kesombonganmu…
Masihkan bisakah kau hina orang di sekelilingmu…
Masih bisakah kau menyakiti sesamamu….
Takut…
Sepi….
Dingin…
Sendiri …..
…………………..
.: Gundahnya seorang Ayah :.
Segenggam Gundah (Ode untuk Para Ayah)
Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. “Yah, beras sudah habis loh…” ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, “Ayah…, besok Agus harus bayar uang praktek”.
“Iya…” jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, “besok beliin lengkeng ya” dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah” sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.
Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya”. Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, “ini, anak siapa minta susunya ke siapa”. Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?
Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.
Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya
tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, “Iya, nanti semua Ayah bereskan” meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.
Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.
Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.
Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu
kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan. Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya,
membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai. Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan
membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.
Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.
dikutib dari sebuah milis
Jika aku mencinta……
Ya Allah, jika aku mulai mencintainya,
Jadikanlah cinta ini kepada melabuhkan cintanya padaMu,
agar bertambah cinta ini tidak melebihi cintaku kepada-Mu
Ya Allah yang maha rahman, jika aku merindukannya,
mohon jaga rinduku pada seseorang yang selalui rindu di jalanMu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya
agar aku tidak melupakan rinduku pada jannah-Mu .
Ya Allah,ketika aku menikmati cinta ciptaan-Mu
jangan kau lalaikan kami
bahwa hal terindah adalah bermunajat kepada-Mu
Ya Allah, jika aku mencintai pilihan-Mu,
peliharalah cinta dan sayang kami
agar kami selalu mencintainya karena-Mu
Ya Allah, ridhoi kami hidup bersama
ingatkan kepada kami
agar kami tidak melupakan keberadaan-Mu di sisi kami
Ya rabb,jika aku mulai menyayanginya,
jagalah rasa sayang ini padanya
agar tidak melebihi rasa sayang ku kepada-Mu.
Ya Rabb, jika hati ini mulai tenang,
tenangkanlah hatiku padanya
agar tidak berpaling dari-Mu.
dari-Mu cinta ini kuberikan
dari-Mu rindu ini kurasakan
dari-Mu sayang ini kujaga
Karena ku cinta karena-Mu
Karena ku rindu karena-Mu
Karena ku sayang karena-Mu
…………
… adalah hakmu, anakku
harap….
asa……
adalah do’a darimu nak,…
Benar adanya, anak adalah investasi orangtua kelak
hati orangtua mana yang tak bahagia
bila nanti di akhirat ditolong oleh anak-anaknya
di tolong oleh do’a-do’a dari anak-anak mereka.
bila anak menangis di tengah malam
memohonkan ampun kepada sang khalik atas dosa orangtuanya
bila anak menjaga izzah
adalah balsanmu terindah yang kau berikan
abi sadar…
semua tergantung dari goresan tinta
goresan tinta di lembaran putih hatimu
adalah hakmu, anakku….
mengenalkan Islam agar kau berpegang teguh pada-Nya
adalah hakmu, anakku….
meminta abi mengajarkan akhlakmu
adalah hakmu, anakku
meminta abi untuk menceritakan kisah Rasul-Mu
adalah hakmu, anakku
mengajarkanmu tuntutan sholat agar kau selalu dekat dengan-Nya
adalah hakmu, anakku….
meminta abi mengeja ayat-ayat-Nya agar kau mengamalkan-Nya
adalah hakmu, anakku….
mendapatkan pemimpin yang menuntunmu menuju janah-Nya
adalah hakmu, anakku….
mengarahkan kau di jalan yang terbaik
Alangkan indahnya bila di dalam keluarga terdapat rasa saling membutuhkan
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga selalu melafazkan asma-Nya
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga berjama’ah bersujud kepada-Nya
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga bersama memohon ampunan-Mu
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga saling menasehati dan mengingatkan
Alangkah Indahnya jika tiap gerak adalah ketaatan kepada-Mu
Alangkah Indahnya tiap nafas terucap tasbih-Mu
Alangkah Indahnya jejak melangkah kepada-Mu
Alangkah Indahnya jika kau balas cinta ini dengan rahmat-Mu
Alangkah Indahnya jika ikhtiar ini kau balas dengan rejeki-Mu
Abi cinta kalian karena Allah…
abi akan belajar semua..
abi akan lebih berusaha
berusaha memberikan hak-hakmu, anakku…
Abi mencintai kalian karena Allah….
Salam sun sayang buat anak-anaku dan bunda
Najwa dan Aflah adalah bagian dari hati ini.
at my desk,11 March 2009
Amanah-Mu yang kurindu
Bersama jalani garis lintas-Mu
Inilah yang mengisi lembaran
Semakin terisi semua dibenak
Anggun yang melintas
Yang semakin menyayat
Angan terus melayang terbumbung
Nun jauh…jauh tanpa kuraih
Gak hanya bayang yang ada
Nampak senyum mengembang
Adakah asa yang tersisa
Jejak masih terbesit dan tertanam
Walau tak disisi menyendiri
Ambil sisa pedihku
Damai diri yang ada
Amanah-Mu adalah lahan ibadah
Niscaya bertemu di Jannah-Nya
Alam yang Kau cipta
Fana tuk kupijakkan
Lama hanya sementara
Ada yang kekal menanti disana
Hanya pertemuan-Mu lah ku harap
…………………………….
Hukum Membaca Al-Qur’an Tanpa Tahu Artinya
![]()
Al-Quran sesungguhnya merupakan kitab yang berisi petunjuk dasar untuk hidup di alam dunia. Dengan menggunakan petunjuk itulah, kita diminta oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam arti luas, bukan terbatas pada ruang lingkup ritual dan sakral, tetapi seluruh aplikasi kehidupan manusia sesungguhnya bagian dari ibadah. Tanpa menggunakan petunjuk itu, maka apapun yang kita niatkan sebagai ibadah akan sia-sia.
Maka selayaknya sebagai muslim, kita bukan sekedar hanya membaca Al-Quran sebagai ritus ibadah, tetapi lebih dari itu, seharusnya kita mempelajari maknanya, mendalami esensi isinya, serta pengimplementasikan perintah-perintah yang ada di dalamnya menjadi suatu tindakan yang nyata.
Al-Quran sendiri telah mengumpamakan orang yang membaca kitab namun tidak mengerjakan isinya seperti layaknya keledai yang memanggul kitab.
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al-Jumu’ah: 5)
Maka menjadi kewajiban kita untuk mempelajari isi kitabullah, sebagaimana ciri orang yang bersifat rabbani.
Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali Imran: 79)
Perintah untuk melakukan tadabbur Al-Quran juga kita dapati sebagai sebuah keharusan sebagai seorang muslim.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quraan ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)
Sekedar Membaca pun Ibadah
Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa Al-Quran itu memang lain dari wahyu yang lain. Salah satu kelebihannya adalah bila dibaca, meski tidak dipahami maknanya, Al-Quran tetap mendatangkan pahala. Walaupun manfaatnya menjadi sangat sedikit dibandingkan bila kita paham maknanya.
Namun perintah membaca tetap ada, sehingga meski kita belum menguasai bahasa arab, tetap saja membaca Al-Quran merupakan perintah dari Allah SWT. Perintah untuk membaca Al-Quran kita temukan bertebaran di dalam Al-Quran sendiri, di antaranya ayat berikut ini:
Bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an.(QS. Al-Muzzammil: 20)
Selain ayat Quran juga banyak hadits nabawi yang menganjukan kita untuk membaca Al-Quran, tanpa menekankan pentingnya kita mengerti maknanya.
1. Orang yang Baca Al-Quran dengan Yang Tidak Baca Berbeda
Salah satu nash hadits secara tegas membandingkan orang yang membaca Al-Quran dengan yang tidak membaca Al-Quran.
Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadits ini jelas sekali bahwa sekedar membaca Al-Quran atau tidak membacasudah membedakan kedudukan seseorang. Berarti ada nilai tersendiri untuk sekedar membaca Al-Quran.
2. Bersama Malaikat
Hadits ini juga sangat eksplisit menyebutkan tentang orang yang membaca Al-Quran, yaitu dijanjikan Allah akan di tempat bersama dengan para malaikat.
Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (HR Bukhari Muslim)
Semakin tegas lagi ketika lafadz hadits ini menyebutkan kasus orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata yang tetap saja akan diberikan pahala. Jelas menunjukkan tentang pentingnya membaca Al-Quran.
3. Bacaan Quran adalah Syafaat
Selain itu juga kita temukan adanya dalil yang menyebutkan tentang salah satu fungsi bacaan Quran sebagai syafaat yang akan menolong kita di hari akhir nanti.
Dari Abu Umamah Al-Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, “Bacalah Al-Qur`an!, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (HR Muslim)
4. Diberi Pahala per Huruf
Dan semakin tegas lagi pentingnya membaca Al-Quran ketika Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata bahwaRasulullahSAW, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf.” (HR At Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan shahih).
Betul-betul disebutkan bahwa membaca Al-Quran itu berpahala dan pahalanya dihitung perhuruf, di mana setiap huruf akan dikalikan sepuluh kebajikan.
Semua dalil ini menunjukkan bahwa sekedar membaca Al-Quran tanpa memaham arti, juga sudah mendatangkan pahala. Namun kalau kita bandingkan dengan dalil-dalil yang lain, tentu pahalanya akan menjadi lebih berkah, lebih banyak dan lebih besar, manakala kita pun juga mengerti dan paham makna bacaan yang kita baca.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
(diambil dari rubric ustad menjawab eramuslim.com)
Seberapa baikkah sholatku…..
![]()
”Setiap hari kubuka mata dari tidur di pagi hari sambil sesaat termenung, aku masih hidup. Seberapa baikkah shalatku… ”
Teringat dulu ketika manusia agung itu menahan pedih di kala sakaratul maut, inilah yang diucapkannya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu. ” Di luar pintu rumah Az-Zahra tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii”, “Umatku, umatku, umatku.” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang dima’sum itu.
Mari renungkan, betapa luar biasa amal shalat, sehingga Rasulullah masih sempat mewarisi wasiat shalat di akhir hidupnya, yaitu ketika rasa sakit tak ada yang menandingi lagi.
Shalat, ia amal utama setelah syahadat, amal pertama diperhitungkan di akhirat.
Shalat, ia mencerminkan kehidupan, dengannya tercegah perbuatan keji dan mungkar.
Shalat, ia diperintahkan Allah langsung ketika Rasulullah Mi’raj di suatu malam.
Lalu mari renungkan kisah para pejuang, di masa lalu, di padang pasir, di masa kini, di kegelapan hutan, di puncak gunung, dalam persembunyian.
Shalat, ia membuat seorang luka berdiri di waktu malam, di tengah amuk pertempuran.
Shalat, ia bagaikan rehat karena keringat dan darah seharian.
Shalat, ia sarana mengadu dan memohon pertolongan.
Shalat, ia sebuah amal para mujahid sebelum tiang gantungan
Coba renungkan kisah di kala sakit di pembaringan.
Shalat, ia dikerjakan dalam duduk, ataupun berbaring, tetap ia sebuah kewajiban.
Dan sebuah akhir yang sangat perlu direnungkan.
Shalat, ia dilakukan bagi manusia yang tak kuasa dalam diam, sesaat menuju pekuburan.
Saudaraku, itulah shalat, sebuah kewajiban 17 kali ruku’ dalam sehari semalam yang seringkali tak lengkap, tanpa makna, bahkan hilang.
Setiap hari kubuka mata dari tidur di pagi hari sambil sesaat termenung, aku masih hidup. Seberapa baikkah shalatku…
***
Robbij’alni muqiimassholaati wamindzurriyati Ya Allah jadikan aku dan keturunanku orang-orang yang mendirikan sholat.
Perjalanan ini…pasti kembali kepada-Nya
![]()
“Tutup mata hatimu dari kebencian dan kedengkian karena benci dan dengki akan membuat hati kita keruh,
jangan selalu cemas dan gelisah lepaskan pikiran dengan beribadah kepada-Nya,
Seingkanlahmengadu kepada-Nya, ber muhasabah diri dikala penat mengundang
hiduplah dengan kesederhanaan dan penuh barokah,
Jagalah pengeluaran yang terbatas namun peliharalah memberi yang banyak,
selalu bernyanyi ceria dan selalu berdo’a,
lupakan masa lalu…apapun itu kita tak mungkin kembali lagi,
selalu berpikir dengan perasaan, beri perasaan hatimu dengan cinta seperti sinar mentari pagi ini
semua itu merupakan lingkaran perjalanan yang hakiki dari kehidupan yang pasti akan kembali kepada-Nya.”
Takdir
Dihempas gelombang dilemparkan angin
Terkisah bersedih bahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencanaNya
semua berjalan dalam kehendakNya
nafas hidup cinta dan segalaNya
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Bila mungkin ada luka coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti (hilang kan berganti)
Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkinkan hati merindukan Dia
karena hanya denganNya hati tenang
Damai jiwa dan raga
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendakMu ya robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya padaMu ya robbi
Hanya padaMu ya robbi
Satu Rindu
SATU RINDU
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu
Allah izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu ….
oh ibu ….
kau ibu ….
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu ….
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu ….
oh ibu ….
kau ibu ….
oh ibu …..
oh ibu ….
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu ….
kau ibu ….
kau ibu ….
-
Recent
- Karunia-Mu
- Renungan Malam Pertama
- Pidato Severn Suzuki, 12 th di Ruang Sidang PBB membuat forum PBB terdiam
- .: Gundahnya seorang Ayah :.
- Kita Pasti Bertemu kembali…. (Part1)
- Jika aku mencinta……
- … adalah hakmu, anakku
- Najwa dan Aflah adalah bagian dari hati ini.
- ……..Seandainya Aku tahu…
- Di sini Engkau beristirahat dengan tenang.
- semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
- Bocah Misterius
-
Links
-
Archives
- November 2009 (3)
- September 2009 (1)
- July 2009 (1)
- April 2009 (2)
- March 2009 (2)
- January 2009 (2)
- September 2008 (1)
- August 2008 (3)
- June 2008 (1)
- May 2008 (2)
- April 2008 (1)
- March 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS