Bekal Surga

Just another WordPress.com weblog

Bocah Misterius

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang.

Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak
remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini
bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda
dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya
memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap
dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat
diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila
orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!
Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan
puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar
dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja
menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa,
karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu
ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung
mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah
kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan
roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian
dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.
Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya
akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat
mundur semua orang yang akan melarangnya.

************ ********* **

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah
itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda
zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan
es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang
lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es
kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain
menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya
takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar Luqman.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali
mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.
Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian,
ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga
akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya
bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi
mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun
menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu,
dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan
tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang
melihatnya.

“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan
menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan
saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada
Luqman.
“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan
puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu,
bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya
ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang
dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan
uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah
itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman
lebih tajam lagi.
“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami
semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal
ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan
kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami
yang kelaparan, dengan menimbun harta
sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan
melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila
sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian
mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga
kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran
waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib
terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?”

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi
kesempatan pada Luqman untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia
berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk,
kini ia bersuara lirih, mengiba.
“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa
ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya
bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa
kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
siang saja.

Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang
di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami
dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu
kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam
mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi
banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya
denga istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di
saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun
hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah
yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali
termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara
berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan
orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan
melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di
sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta,
tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan
adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih
menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap
kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun,
jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
menyatu dengan bumi kelak…”

************ ********* *

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan
hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari
mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut
adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini
bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu,
bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang
dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak
ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah
hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia
edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa
dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua
orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng
bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran
didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu
keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah
menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar
langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan
bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak
masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk
akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang
dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan
pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan
orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang
tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka
yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa
seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang
sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali
menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang
berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan
terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan,
sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan
lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah
memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau
menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau
dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua
orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya
orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa
saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir.
Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan
tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada
seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia
salah.

dapet dari milis mohon ijinnya dicopy paste karena memang pantas disebarluaskan.

September 18, 2008 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | 1 Comment

Mensikapi Pengkritik

Sepenggal Kenangan Bersama Ustadz. Hasan Al banna Dalam Mensikapi Pengkritik

Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam telah membuat Sang Imam dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah, tiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di tengah masyarakat Mesir.

Maka para ikhwan yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus seorang ikhwan bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Imam.

“Ya, Ustadz. Bagaimana pendapat anda?” tanya Mahmoud pada Sang Imam yang tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.

“Akhi…” Sang Imam menatap Mahmoud. “Artikelmu ini sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu. Tapi…”

“Tapi apa ya, Ustadz?” tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Imam yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangannya.

“Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika ia jadi dimuat,” ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud.

“Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius.”

Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu.

“Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan timbul beberapa titik rawan. Diantaranya, justru akan mengekspos artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan mudharat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya,” tutur Sang Imam pelan. Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.

“Akhi, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN YANG AKAN MEMANCING SIKAP KERAS KEPADA BAGI YANG DIBANTAH. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah, tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA KESALAHANNYA. Ketahuilah, Akhi, si Fulan itu telah terpengaruh oleh sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN APA YANG MENJADI KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN DENGAN CARA MENGHALALKAN SEGALA CARA.”

Sang Imam diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya masih menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.

“Akhi, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN PINTU KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG SEBENARNYA MENJADI HAK DIA. Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Akhi?” Sang Imam menutup penjelasannya.

Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Allah telah menjadikan pandangannya demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah dianugerahi bu’dunnazar (pandangan yang jauh ke depan), sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang biasa.

Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil tersenyum. “Anda benar sekali ya, Ustadz. Saya setuju dengan pendapat anda.”

Sang Imam pun tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada dalam pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di tangannya saat itu.

***

Epilog

Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di kancah dakwah.

Ia telah tercatat sebagai salah seorang prajurit Islam yang gagah berani, yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara mengurung jasadnya selama pemerintahan Gamal Abdul Nasser. Ia telah mempersembahkan kepada ummat, tafsir Al-Quran yang sangat luar biasa Fi Zilalil Quran, yang ia tulis selama di dalam penjara. Ia telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di Mesir dan menutup sejarah hidupnya sebagai seorang syuhada di tiang gantungan pada tanggal 29 Agustus 1966.

Dialah… Sayyid Quthb rahimahullah !

August 25, 2008 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

Bersabar Menunggu Panggilan

Seorang pria berumur 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya
dengan membuka sebuah toko berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota
Bandung. Tiada yang mendampingi hidupnya di rumah selain Asih, istrinya.
Sudah puluhan tahun berumah tangga, Allah Swt Sang Maha Pencipta belum berkenan
memberikan mereka keturunan.

Namun baik Asep dan Asih adalah model hamba Allah yang menerima segala
ketetapan. Mereka selalu menghiasi hidup dengan pengharapan terhadap Allah
SWT.
Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala
ujian yang diberikan. Hampir dua puluh tahun mereka menabung demi mewujudkan
cita-cita. Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan dalam hati, untuk
berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah. Dengan hasil dagang di
toko yang seadanya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk menggapai
cita-cita itu. Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang belum pernah mereka lakukan.

Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam dada seorang hamba yang
rindu akan keridhaan Rab-nya. Hasil tabungan yang mereka kumpulkan tidak mereka
tabung di bank. Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan agar dapat memotivasi
semangat mereka untuk mencari tambahan uang sesegera mungkin. Sungguh dua puluh tahun
dalam menabung, merupakan masa yang cukup panjang untuk bersabar demi
mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT. Tidak banyak, manusia modern di zaman sekarang
yang mampu memiliki niat sedemikian.

Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang
yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000.
Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang, belum
lagi biaya bimbingan haji yang harus mereka ikuti, ditambah dengan uang jajan
tambahan untuk membeli oleh-oleh. Mereka menghitung, kurang lebih mereka
memerlukan dana berkisar Rp 10 juta.

Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan
mereka, dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji. Suatu
pagi, Asep mendengar kabar bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid
As Shabirin jatuh sakit secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan
Sadikin.
Setelah divisum oleh dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga
sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang
terjadi pada masyarakat Indonesia.

Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu. Sesampainya di sana,
sahabat tersebut masih berada di ruang ICU dan untungnya masih sadarkan diri
sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui
bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri
lagi, dan tumor tersebut harus diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor
tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia
masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa
kepada Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.

Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu. Pada hari kedelapan,
sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3, bersama tujuh
pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak
layak disebut sebagai kamar rumah sakit. Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju
pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur
yang tidak rapi. Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua
membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata,
tetangganya adalah seorang yang mungkin memilik nasib sama dengan jutaan
orang di Indonesia. Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu
bayarnya pakai apa?

Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan
Asep sedang berada di sana, seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah
sakit bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah
dijalankan sebuah operasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta.
Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus
dilakukan. Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal
berdoa saja agar terjadi keajaiban.

Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap
sedemikian. Namun mau bilang apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah
menguras habis tabungan yang mereka miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah
sakit selama ini saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi?
Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt. Hari
kedua belas, ketiga belas, keempat belas.. kondisi pasien semakin parah.
Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam
sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan
bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh.
Pemandangan itu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir
ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.

Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya, ia bergegas pulang menuju
rumah.
Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko
sederhana milik mereka. Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan
keputusannya itu kepada Asih. “Bu., Kang Endi tetangga kita yang sedang di
rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat
penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya. Tiga hari
lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster memberitahukan bahwa Kang
Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani menyatakan iya, sebab biaya
operasi itu hampir Rp 50 juta..” Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat
yang panjang. Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan
keluarganya,
“Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa.?” Asep pun langsung menyambung
dengan cepat, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita
diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Kalimat itu
diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep. “Diberikan..?!! Waduh pak.,
hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah agar cita-cita berhaji dapat
diwujudkan. Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain yang bukan
saudara kita?” Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya.

“Bu.., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin
ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya
berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak
yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh
Dia Yang Maha Kuasa.” Kalimat itu meluncur dari mulut Asep dan menohok relung
hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk
dan setuju atas usul suaminya.

Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk
menjenguk. Toko mereka ditutup hari itu. Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan
membawa
sebuah amplop tebal berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka
siapkan untuk berhaji. Keduanya tiba di rumah sakit dan menjumpai Kang Endi
dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya datang
kepada istri Kang Endi. Mereka serahkan sejumlah uang tersebut, dan suasana menjadi
haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah
oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan saat dimana
keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan. Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah
setelah berpamitan kepada keluarga.

Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke
bagian administrasi rumah sakit. Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi.
Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang
Endi akan dilakukan. Alhamdulillah! Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang
operasi.Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani
Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi
berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu., darimana dana
operasi ini didapat?” Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia tahu
sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu
menyediakan dananya.

Istri Kang Endi menjawab, “Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang
membantu, Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!” “Memangnya, beliau usaha
apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak
Asep adalah seorang pengusaha sukses. “Dia hanya punya usaha toko kecil di
dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan
bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan.

Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya.
Hatinya mulai tergerak dan berkata, “Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil
saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya,
tidak tergerak untuk membantu sesama.” Suara hati itu terus membekas dalam
dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.

Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4
jam lebih. Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh
keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira. Kang
Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Pak Asep masih sering
menjenguknya. Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang
Endi dan pak Asep pun sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter
memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu
kepada Pemiliknya, yaitu Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta
alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.

Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep
dan Asih tengah berada di rumahnya. Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada
sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan
wanita turun dari mobil tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah
keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep. Begitu mendekat, tahulah pak
Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya
kemarin.

Gemuruh suasana hati Asep. Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak
dokter bersama istrinya. Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima
tamu agung seperti malam ini. Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk.
Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat dalam
pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung.
Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Maka
pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep
dan istri.

Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri
yang telah rela membantu tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup
besar.
Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi
pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di
bangku kuliah. Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep
dengan bahasa yang selalu merendah.

Tiba saat pak dokter berujar, “Pak Asep dan ibu.., saya dan istri berniat
untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan
kami dimudahkan Allah Swt. Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan
ibu akan dikabul oleh Allah.” Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan
kalimat,
“Amien.!” Pak dokter menambahkan, “Selain itu, biar doa bapak dan ibu
semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri, ada baiknya bila bapak dan ibu
berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah.”
Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih
sehingga membuat mereka berani menanyakan, “Maksud pak dokter..?” “Ehm.,
maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji
bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”

Kalimat itu berakhir menunggu jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tidak
kunjung datang hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara
bersamaan. Beberapa menit keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana
milik Asep dan Asih. Seolah bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para
hamba-Nya yang senantiasa mencari keridhaan Tuhan. Asep dan Asih hanya mampu
mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur
sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan kepada Allah
Yang Maha Pemurah. Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji di Baitullah
demi mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.

Sungguh, kesabaran panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan
berbuah di tangan Allah Swt menjadi balasan yang besar dan anugerah yang
tiada terkira.

Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung

August 25, 2008 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

Diam Pada Saat Yang Tepat

Diam Pada Saat Yang Tepat

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya
dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia
dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi
kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan
kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar
kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar.
Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan.
Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia
lalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.” Orang-orang
pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu.

Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang
bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan
saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu
bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan
itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si
penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki
itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya
serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu
berkata, “Mungkin ia tidak sengaja.” Bangsawan itu membantah. Sementara si
lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa
kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim
mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu.

Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia
tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang
hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, “Mungkin orang ini bisu,
sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi.” Bangsawan
itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, “Tidak
mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar
tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!” dengan nada sedikit emosi.
“Pokoknya saya tetap minta ganti,” lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, “Kalau engkau
mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?” Jika ia sudah
memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan
peringatannya.” Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa
diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang
baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun
pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya
diam.

May 21, 2008 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

.: Luasnya Neraka :.

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datang kepada
Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah
mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: ‘Mengapa aku melihat kau berubah muka?’

Jawabnya: ‘Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh
supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg
mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar,
dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman dari padanya.’

Lalu nabi s.a.w. bersabda: ‘Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam.’
Jawabnya: ‘Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama
seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga
putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak
pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan
hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar
penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka
itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi
kerana panas dan basinya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari
rantai yg disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, nescaya
akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung
barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur
kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi
dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan-potongan
api.
Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang
tertentu dari orang laki-laki dan perempuan.’
Nabi s.a.w. bertanya: ‘Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?’

Jawabnya: ‘Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun,tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.’ (nota kefahaman:
iaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w.: ‘Siapakah penduduk masing-masing pintu?’
Jawab Jibrail: ‘Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir
setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga
Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa’eir.’
Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya:
‘Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?’
Jawabnya: ‘Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg
sampai mati belum sempat bertaubat.’

Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga
Jibrail meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar
kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: ‘Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku
dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke
dalam neraka?’

Jawabnya: ‘Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.’
Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi
s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang
kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab ‘Peringatan Bagi Yg Lalai’)

Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat
sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku.

Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:
1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Wallahu ‘alam bi showab

May 8, 2008 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

Mensikapi Pengkritik

Sepenggal Kenangan Bersama Ustadz. Hasan Al banna Dalam Mensikapi Pengkritik

Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam telah membuat Sang Imam dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah, tiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di tengah masyarakat Mesir.

Maka para ikhwan yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus seorang ikhwan bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Imam.

“Ya, Ustadz. Bagaimana pendapat anda?” tanya Mahmoud pada Sang Imam yang tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.

“Akhi…” Sang Imam menatap Mahmoud. “Artikelmu ini sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu. Tapi…”

“Tapi apa ya, Ustadz?” tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Imam yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangannya.

“Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika ia jadi dimuat,” ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud.

“Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius.”

Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu.

“Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan timbul beberapa titik rawan. Diantaranya, justru akan mengekspos artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan mudharat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya,” tutur Sang Imam pelan. Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.

“Akhi, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN YANG AKAN MEMANCING SIKAP KERAS KEPADA BAGI YANG DIBANTAH. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah, tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA KESALAHANNYA. Ketahuilah, Akhi, si Fulan itu telah terpengaruh oleh sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN APA YANG MENJADI KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN DENGAN CARA MENGHALALKAN SEGALA CARA.”

Sang Imam diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya masih menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.

“Akhi, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN PINTU KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG SEBENARNYA MENJADI HAK DIA. Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Akhi?” Sang Imam menutup penjelasannya.

Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Allah telah menjadikan pandangannya demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah dianugerahi bu’dunnazar (pandangan yang jauh ke depan), sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang biasa.

Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil tersenyum. “Anda benar sekali ya, Ustadz. Saya setuju dengan pendapat anda.”

Sang Imam pun tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada dalam pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di tangannya saat itu.

***

Epilog

Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di kancah dakwah.

Ia telah tercatat sebagai salah seorang prajurit Islam yang gagah berani, yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara mengurung jasadnya selama pemerintahan Gamal Abdul Nasser. Ia telah mempersembahkan kepada ummat, tafsir Al-Quran yang sangat luar biasa Fi Zilalil Quran, yang ia tulis selama di dalam penjara. Ia telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di Mesir dan menutup sejarah hidupnya sebagai seorang syuhada di tiang gantungan pada tanggal 29 Agustus 1966.

Dialah… Sayyid Quthb rahimahullah !

April 8, 2008 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

Hati-hati dengan “Aku mencintaimu…..”

lebaran3.jpg

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat.
Nanar. Gadis itu masih terlalu belia.

Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan
untuk mencintainya. Sebentar. kemudian ia pun berkata, “Kamu kaget melihat
semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini”. Itulah
kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari
Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti. Sebab cinta adalah kata lain dari
memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan.. sebab pekerjaan cinta dalam siklus
memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab
pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat
dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki
kepribadian kuat dan tangguh.

Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, “Aku
mencintaimu” . Kepada siapapun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada
taruhan kepribadian disitu.

Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin memberimu sesuatu. Yang
terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari,

“Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang
kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia.”

“aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh
semaksimal mungkin.”

“aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu
melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu .”

“aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak
dirimu..”

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita
cintai terhadap integritas kepribadian kita.

Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu” , kamu harus
membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan
ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan
dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta:
memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal
hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan
seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir,
keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak rakyatnya .

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian.
Atau penurunan.
Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu
kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi
yang sulit. Di situ konsistensi teruji. Di situ juga integritas terbukti.
Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit,
jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar. Mereka yang
dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya
penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya.
Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia
memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan
merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat
mencintai sehebat lelaki tua itu.

by : M. Anis Matta

November 15, 2007 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

“Bersyukurlah, maka akan Aku tambah nikmat-Ku”

Bersyukur….

Bersyukur adalah ungkapan yang mudah,
namun jarang sekali kita lakukan.
padahal dengan sering bersyukur dada kita akan lapang.
Kita sering sekali melihat bintanf yang indah di langit,
namun jarang sekali kita melihat rumput yang menari indah nan hijau kala di sapu angin.
Keinginan pasti tak akan pernah hentinya.
Terus ingin ini… terus.. dan terus…
Jarang kita syukuri apa yang sudah kita miliki.

Setiap bangun tidur kita muisti rapikan tempat tidur,
ini menandakan kita telah nyenyak tidur dengan nyaman dan aman bersama istri dan anak tercinta.
Ternyata di luar sana masih banyak saudara kita yang meringkuk di tepi jalanan hanya dengan alas koran dan baju yang melekat di badan meraka entah dari kapan baju kumal itu menyelimuti badan mereka.
Nyamankah mereka…
Amankah mereka….

Setiap pagi telah dijamu dengan sepirng roti dengan aneka rasa serta segelas susu, disertai gelak tawa keluarga tercinta kita.
Apakah ini masih mengurangi rasa syukur kita.
Bagaimana keadaan saudara kita yang harus memulai perjuangan dalam pencarian rejeki dengan perut yang perih dan lapar karena hanya air putihlah yang menemani sampai ujung jalan.

Setiap akhir bulan kita pasti menanti penghasilan tetap kita apakah di luar sana mempunyai hal itu.
Jangankan tiap bulan untuk hari ini saja mereka bahkan tidak mengetahui berapa penghasilan yang akan di dapat.

Ya.. Rabb…
Sangat beruntunglah kami ini adanya….
ku kan selalu melihat rumput-rumput hijaumu,
agar terkikis semua nafsu dunia ini…
agar terurai semua gemerlap keinginan tiada guna…
agar kami mudah menjawab dihari penghisapan kelak
Karena mata ini…
hati ini…
tangan ini….
pasti akan jadi saksi kehidupanku di dunia ini….

Ya… Rabb….
Maha suci Engaku ya Allah…
Terima kasih atas rahmat dan karunia yang telah Engaku berikan…
Telah memberi kesempatan kepada kami
untuk melihat dengan mata sempurna-mu…
Tangan Ciptaanmu untuk menggapai rahmat-Mu…
Sepasang Kaki yang sangat ku butuhkan untuk melangkah menjemput rejeki-Mu
kuping ini….
Hidung Ini….
Mulut ini….
Terima kasih Ya.. Allah….
Kau masih memberi waktu kepada semua organ tubuh ini…

Ya.. Rabb…
Kuatkah hati ini jikalau Kau cabut karunia mata ini….
Kuatkan hati ini jikalau Kau ambil Lengan ini…
Kuatkah hati ini ya Allah….

Masih lupa bersyukurkah aku ….
dengan semua yang ada ini…
masih malaskah aku dengan kewajibanku kepada-Mu..
Ya Rabb….

Sangat Indah Firman-Mu ya Rabb..
“Bersyukurlah, maka akan Aku tambah nikmat-Ku”

August 27, 2007 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet

Mengumpulkan Kembali Kapas Yang Tersebar

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering keluar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat disekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat “Sobat. Aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit “.

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis di sebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?” “Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi”, kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar kemana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi”.

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja” kata si sakit

“Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat”. Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf.
Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita.

Kalau memang itu yang akan terjadi , lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita. Tentu jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu yang membuat orang lain berbahagia.

June 6, 2007 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | 1 Comment

Kenapa Mesti Malu?

Kenapa Mesti Malu?

Hari itu seperti biasanya saya mengantar dan menjemput Kiki, anak perempuan saya latihan Shorinji kempo. Dan ketika menjemputnya, saya melihat dia berbicara dengan temannya, seorang anak laki-laki yang sama-sama belajar kempo.

Saya tidak begitu menaruh perhatian pada mereka dan tetap menunggu anak saya selesai berbicara.
“Ada apa, Ki?” tanya saya setelah Kiki mendatangi saya.
“Teman Kiki bilang, ‘Kenapa Mama memakai pakaian seperti itu di Jepang?
Apa ngga malu?” jawab Kiki.
“Terus Kiki, jawab apa?” tanya saya lagi.
“Mama nggak malu, kok. Mama pakai baju orang Indonesia.., ” jawab Kiki.
“Ini pakaian orang Islam, Kiki, bukan pakaian orang Indonesia. Memang Mama ngga malu, kok. Nggak usah malu. Ya, jangan malu… ” jelas saya.

Sambil mengayuh sepeda menuju pulang, saya bertanya lagi.
“Terus… Teman Kiki bilang apa lagi?” tanya saya tertarik.
“Dia cuma bilang, ‘Oohhh’….”
“Hebat ya Kiki, bisa ngomong gitu sama temannya…, ” puji saya.
“Lagipula kenapa harus malu, ya… ” kata saya lagi.
“Oh ya, Kiki malu ngga dengan Mama?” tanya saya ingin tahu.
“Ngga… ” sahutnya kalem.
Syukurlah. Saya menarik napas lega diam-diam.

***

Suatu hari saya mengajak anak-anak ke rumah teman.
Begitu memasukkan tiket, kereta listriknya datang dan segera pergi lagi meninggalkan kami yang tergopoh-gopoh menuruni tangga mengejarnya.
Tetapi akhirnya kereta listrik itu berangkat tanpa kami di dalamnya.
“Yaaahhh… Kita harus nunggu 10 menit lagi, ” kata saya kecewa.
Anak-anak pun terlihat kecewa.

Sewaktu menunggu kereta bawah tanah datang, saya lihat anak-anak saya berbisik-bisik.
“Ada apa, sih?” Rasa keki membuat saya mengajukan pertanyaan.
“Itu ada teman Kiki. Miraretakunai…(ngga mau dilihat sama dia). “
“Kenapa? Kiki malu?” tanya saya seakan tahu apa yang dikhawatirkannya.
“Kalau ketemu nanti Kiki jadi harus ngomong begini begitu, ” kata Kiki.
“Ngomong begini begitu, apa maksudnya, Ki?” tanya saya keheranan.
“Iya, Kiki kan jadi harus nerangin kenapa Kiki pake ini, ” katanya sambil memegang jilbab warna biru mudanya.
“Tapi kan… Kalau dia teman Kiki yang baik, yah ngga apa-apa dong kalo lihat Kiki pakai jilbab?” tanyaku menyelidik.
“Hmmm…, ” sahut Kiki pelan bernada ragu.
“Cuma malas aja kok ngejawab tanya-tanya, teman Kiki itu.”

“Memangnya Kiki malu ya dilihat teman sekolah sedang pakai jilbab?”
tanya saya. Saya lihat Kiki diam sejenak dan menggeleng.
“Nggak, inilah Kiki yang sebenarnya. (Hontou no Kiki no shotai). Kenapa Kiki mesti malu!” jawabnya tiba-tiba.
“Begitu, dong!” kata saya membanggakannya.

***

“Bukan kita yang mesti malu dengan pakaian yang kita pakai. Lagipula kenapa kita mesti malu? Bukankah kita memakai pakaian yang memang disuruh Allah. Kalau kita pakai baju yang kelihatan pahanya, bahunya,
lehernya, nah orang yang pakai itu yang harusnya malu. Iya, ngga, Ki?”
tanya saya minta persetujuannya.
Tapi kenapa ada teman mama yang ngga pakai jilbab?” serbu Kiki.
Glek. Saya terdiam sejenak.
“Iya, mungkin mereka belum tahu, Ki. Mereka belum tahu bagaimana nyaman dan enaknya memakai ini. “
Tangan saya menunjuk pakaian panjangnya.
“Yang mama yakin, kalau mama memakai ini, perasaan mama tenang. Ngga ada perasaan bersalah, dan yang penting mama ngga mau dimarahi Allah. “
“Dimarahi Allah, Ma?” tanya Kiki bernada kaget.
“Iya. Kan, kalau ngga ikut kata Allah, nanti Allah marah, ngga sayang sama kita… “
“Mama pernah baca di buku, katanya orang yang ngga memakai jilbab akan dijauhkan dari surga, dan takkan mencium baunya surga. Wah, takkan mencium bau surga… Artinya jauh dari surga, malah ngga masuk surga dong ya… ” jelas saya.
“He! Ngga mau ah… Kiki mau masuk surga, ” kata Kiki antusias.

Jauh di dalam hati saya merenung. Masih banyak PR yang mesti saya siapkan yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya. Betapa Islam itu indah dan penuh keringanan-keringanan bagi penganutnya. Tidak ada keberatan-keberatan yang tak bisa dipikul hamba-hamba-NYA. Bukankah Allah takkan memberi cobaan di luar kesanggupan hamba-NYA?

Rasulullah salallahu ‘alaihiwassalam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman. “
Rasulullah juga bersabda, “Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. “

” Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu” (al-Ahzab, 59).

Nagoya, Maret 2007

March 27, 2007 Posted by Abu Najwa | Cerita Jiwa | | No Comments Yet