Puisi terakhir WS Rendra
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
… Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman baiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas tempat tidur Rumah Sakit)
Cinta Suamiku
………………..
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjaku kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki.
Penulis: Anggia Krisnina
anggiakrisnina@yahoo.com
Tahun ini …

setahun kau temani
menjadi tenang harap dihati
berjaga rasa damai
tak kan terbuai
dan terus bersemi….
Terima kasih cintaku…
Beberapa baris yang telah aku pasang di status Facebook kemaren hehehe…
Tak terlukiskan kebahagian yang kurasakan memecah gerah rasa yang berlayar tanpa arah yang pasti.
Tak tergambarkan suatu perasaan yang sangat melegakan serasa memecah galau yang setiap saat menyelimuti.
Kau berikan pasangan jiwa yang sangat menjaga hatinya yang selalu kunanti
kau berikan belahan hati yang lama hilang dan tersakiti.
Yaa Allah Yaa Rabb..
Ku hanya seonggok yang mainan yang lusuh tak guna..
ku hanya sehelai kain yang terbuang merana..
Bagaimana aku bisa bahagiakan terkasih tanpa rahim-Mu
Bagaimana aku bisa menghiasi tercinta tanpa Rahman-Mu
Indahnya bercinta saat muda
Indahnya bercinta di dunia
Indahnya bercinta sampai tua
Cinta masa muda
Cinta paling indah
Menghiasi jiwa untuk selamanya
Cinta masa muda
*Nidji
MAAF AKU BELUM SIAP BERJILBAB …
Suatu pagi yang indah di awal bulan Muharram selepas acara malam Muhasabah di kampus, seorang mahasiswi semester empat dengan tinggi semampai, Dinda namanya, ia menyendiri di sudut masjid kampus, sebuah beban berat terlihat di raut wajahnya karena tiada tanda-tanda akan tersenyum jika seorang pelawakpun manggung di depannya. Ada suatu kebimbangan sedang bertarung di kepalanya. Antara keinginannya untuk berjilbab dan kata hatinya yang berkata belum siap.
Matanya tajam menatap awan yang berarakan sambil membawa terbang angan-angannya di antara sela-sela awan putih. Tiba-tiba ia tersentak dan buyarlah semua lamunannya karena sebuah tepukan ringan mendarat di bahu kanannya yang melayang dari arah yang tidak disangka.
Aisyah kamu ini mengkagetkan saja, teriak Dinda yang memekik bersamaan denyut jantungnya yang mengencang cepat.
Abisnya aku dari tadi duduk di sebelahmu kamu cuex aja, lagi mikirin apaan sih sampe segitunya, kata Aisyah sambil tertawa.
Kenapa sih ada orang yang berjilbab tapi tetep aja masih maksiat, kata Dinda dengan tatapan tajam
Ya karena si pelakunya belum mengamalkan Islam dengan sesungguhnya, emangnya kenapa? Mau berjilbab ya? Subhanallah, jawab Aisyah dengan berbinar.
Iya, tapi aku belum siap, takut karena perilaku aku masih jelek, masih doyan maksiat, kata Dinda sambil menunduk.
Dinda, kamu tau khan Puasa Ramadhan itu wajib? Tanya Aisyah lembut. Iya, tegas Dinda.
Dinda juga tau khan kalau Sholat itu wajib? Tanya Aisyah beruntun. Iya, tegas Dinda.
Dinda yakin mau melaksanakannya karena puasa Dinda sudah bisa sempurna dan sholatnya dinda juga udah bisa sempurna? Tanya Aisyah lagi
Be-lum, aku melaksanakan karena itu kan wajib, ya aku berusaha semampu aku dong, tegas Dinda.
Adakah orang yang perilakunya masih suka maksiat atau jahat setelah melaksanakan sholat atau puasa? lanjut Aisyah.
Masih, banyak malahan, jawab Dinda
Nah, begitu juga dengan jilbab ia hukumnya juga wajib sebagaimana wajibnya Sholat lima waktu ataupun Puasa Ramadhan. Jadi dengan wajibnya hukum berjilbab maka sama dosanya seperti ketika kita meninggalkan sholat ataupun puasa.
Masya Allah, jadi dengan semakin lama aku menunda berarti semakin lama menanggung dosa dong? Dinda terkejut
Iya karena sudah mengetahui kewajiban menutup aurat tetapi tidak melaksanakannya. Masalahnya adalah bukan siap atau tidak siapnya kita tetapi mau tidaknya kita mengikuti perintah Allah. Memang ada yang tambah baik dengan Jilbabnya dan ada juga yang masih suka maksiat tetapi berjilbab, begitu juga puasa dan sholat. Trus apakah kita juga akan meninggalkan Sholat dan puasa karena kita belum siap?
Masya Allah, Ya tidak lah, tolak Dinda
Harapannya dari semua ibadah itu adalah ketika ia melaksakan kewajiban itu ia akan menjadi lebih baik, lebih sholehah dan lebih bertaqwa. Ia akan mendapatkan pahala ketika ia mengerjakannya dan akan mendapatkan dosa manakala ia terus menunda atau bahkan tidak mengerjakannya.
Mohon do’a dan bimbingannya ya Aisyah, Insya Allah mulai besok saya akan berjilbab, jawab Dinda penuh keyakinan
Alhamdulillah ya Robb…Inysa Allah, Semoga Allah meringankan langkahmu dan menjadikanmu lebih sholihah dan lebih bertaqwa dengan Jilbab. Amin, Jawab Aisyah dengan rasa syukur yang teramat terpancar dari matanya.
” Katakanlah kepada wanitayang beriman: “Hendaklah mereka menahanpandangannya, dan kemaluannya, danjanganlah mereka Menampakkan perhiasannya,kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kainkudung kedadanya, dan janganlahMenampakkan perhiasannya kecuali kepada suamimereka, atau ayah mereka, atauayah suami mereka, atau putera-putera mereka,atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atauputera-putera saudara lelakimereka, atau putera-putera saudara perempuanmereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak- budak yang mereka miliki, ataupelayan-pelayan laki-laki yang tidakmempunyai keinginan (terhadap wanita) atauanak-anak yang belum mengertitentang aurat wanita. dan janganlah merekamemukulkan kakinyua agar diketahuiperhiasan yang mereka sembunyikan. danbertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,Hai orang-orang yang beriman supayakamu beruntung.” (QS An Nuur: 31)
JS-Di sudut Jakarta
Facebook: al hajj herb
WHERE HAVE ALL THE FATHERS GONE?
Bill Cosby memang berharga. Ketika beberapa tahun silam, anaknya Bill
Cosby Jr diterjang peluru, hampir sebagian warga dunia berguncang. Seorang
ayah ‘ideal’ kehilangan anaknya. Puluhan pertanyaan berhamburan dibalik
kejadian itu. Orang-orang tidak membayangkan Bill Cosby Jr punya masalah
dengan bandit-bandit pengedar obat terlarang. Bukankah Bill Cosby seorang
ayah ideal, humoris, sabar, pengertian, enak dan perlu.
Tidaklah berlebihan, kalau Alvin F. Poussaint M.D, seorang Asisten
Profesor dari Harvard MedicalSchool, membutuhkan 10 halaman untuk
menjelaskan kehebatan sang tokoh. Namun ada satu pertanyaan inti yang
tidak mampu dijawab secara transparan oleh Bill.yaitu, “Where has Bill
gone?”.
Kemanakah Bill pergi selama ini. Apakah yang ia lakukan sepanjang hari
dengan anaknya. Kenapa, Bill tidak mengetahui sedikitpun tentang sepak
terjang anaknya?
Malam, ketika tulisan ini sedang dirampungkan, telpon rumah saya
berdering. Interlokal dari kampung saya disebuah dusun pedalaman Sumatra.
Suara gagap dan ragu-ragu kakak perempuan saya mengabarkan, dua orang
keponakan kami masuk penjara. Satu orang tertangkap sebagai pengedar
Narkoba dan satu lagi sebagai pemakai Narkoba kronis. Sama seperti Bill
Cosby, tiba-tiba puluhan pertanyaan menyergap dan mengepung ruang dalam
otak kanan saya. Semua pertanyaan itu berputar-putar dan akhirnya berpilin
pada sebuah pertanyaan…
“Where has their father gone ?”
Kemanakah ayah mereka pergi selama ini ?
Sehari sebelum saya terima kabar dari kampung, dalam sebuah dialog antara
pemerhati pecandu Narkoba, seorang ibu bercerita. Katanya, tak ada
kesakitan yang lebih mencekam ketimbang cengkraman Narkoba pada anaknya.
Dengan menahan tangis dan sedikit dendam, ia mengatakan anaknya adalah
korban dari hilangnya lelaki dewasa (ayah) dalam putaran kehidupan rumah
tangganya.
“Where has the father gone ?”
Dimana sih ayah-ayah mereka?
Anak-anak yang ditakdirkan menjadi pelaku sejarah diatas hanyalah sebagian
kecil di antara berjuta anak yang sebenarnya tidak membutuhkan konseling
psikologi.
Apa yang mereka butuhkan namun seringkali tidak mereka miliki- adalah ayah
yang peduli padanya dan punya waktu untuk bersama. Anak-anak itu tidak
butuh tenaga psikiater tapi dia butuh seseorang yang bisa dipercaya. Lalu
dimanakah ayah-ayah mereka? Ada dua jawaban.
Pertama, ayah yang ada tapi suka membolos. Tipe ini kita temukan
dimana-mana. Di lapangan golf, tenis, bulu tangkis, kantor dan tempat
lainnya.
Ada ayah yang dinas luar (tugas kantor atau dakwah) ke daerah-daerah
hampir setiap bulan.
Ada ayah yang bekerja, berangkat sesudah subuh dan pulang larut malam.
Ada juga ayah yang nongkrong, tidur-tiduran ditempat tertentu hanya untuk
melegitimasi bahwa ia sibuk sepanjang hari. Sehingga seolah-olah hanya ada
waktu sisa buat anak-anaknya.
Kesimpulannya, ayah-ayah ini ada di mana-mana, tapi mereka sering membolos
dari waktu bersama anaknya. Mereka (ayah-ayah ini) sulit ditemukan di
rapat-rapat POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru), karena ada
peninggalan purba yang menyatakan bahwa urusan sekolah adalah hak mutlak
sang ibu semata .
Kita jarang menemukan ayah di tempat praktek dokter menggendong anaknya
yang sakit.
Kita juga tidak melihatnya di kantor kepolisian mengurus anaknya yang
melakukan tindakan kriminal.Ayah-ayah ini apabila ditanyakan pada
mereka:apakah yang penting dalam hidupmu ? Biasanya mereka
menjawab:keluarga dan
anak-anak. Naifnya, jawaban ini sering tidak tercermin dalam kehidupan
sehari-hari, khususnya bagaimana mereka mengatur waktu dan tenaga mereka
sehari-hari antara pekerjaan dan anak. Simaklah dialog berikut ini:
Sang Anak : “Ayah, Yah main bola yuk!”
Sang Ayah : “O, ya. Ayah baca koran dulu!”
“O, ya. Ayah nonton berita dulu !”
“O, ya. Ayah janji main bola hari Sabtu!”
“O, ya. Ayah ada acara nih”
“O, ya. Ayah lagi cape ? “
“O, ya. Ayah lagi banyak kerjaan”
“O, ya. Ayah mau tapi ? “
Mungkin ayah seperti inilah yang dimaksudkan oleh hasil need assesment
dari Lembaga Demografi salah satu universitas negeri di Jakarta. Jajak
pendapat itu menerangkan empat ciri menonjol ayah tipe Pertama ini. Cepat
marah, jarang ada waktu ngobrol dengan anak, ditakuti anak dan selalu
menakar seluruh pekerjaan dengan uang.
Kedua, ayah yang ada (fisik) dan rajin tapi tidak tahu harus berbuat
apa.Kita menemukan ayah-ayah ini sering berada di rumah. Mereka
mengerjakan banyak hal, tapi tidak terlalu mengerti apa yang
dikerjakannya. Sebuah gelombang rutinitas menjebak dan membawanya
berputar-putar ke dalam pekerjaan yang memiliki kualitas rendah.
Anak-anak menjumpai tokoh ini sepanjang waktu di rumah, namun sayangnya
lambat laun sang tokoh menjadi tidak berarti dalam kehidupan mereka. Tidak
ada lagi kejutan-kejutan psikologis yang biasa ditunggu-tunggu anak dari
seorang ayah yang normal. Ritme komunikasi berjalan tanpa greget dan
hambar.
Sebagian besar korban Narkoba dan pelecehan seksual di kalangan remaja
memiliki ayah tipe kedua ini.
Bukan Superman tapi Superstar. Benar, ayah bukanlah superman, tapi ia
adalah superstar.
Ia bintang di tengah keluarga. Ia pembawa dan penentu model sekaligus agen
sosial. Lewat aksi panggungnya yang memikat, ia menggemuruhkan keceriaan
keluarga. Tapi, sebagai seorang bintang, ia tidak lahir dengan sendirinya.
Ia membutuhkan dukungan, karena bagi lelaki peran ayah bukanlah peran
instingtif.
Peran ini lebih membutuhkan bimbingan sosial dari pada wanita dengan
perannya sebagai ibu. Sebelum dukungan datang dari luar, maka sang ayah
harus mencari dukungan dari dirinya sendiri. Mereka haruslah secara
kontinyu merangsang dialog dengan hati nurani secara intens dan
apresiatif.
Dialog-dialog ini harus mampu meyakinkan bahwa ia tidaklah satu-satunya
ayah yang sedang belajar menjadi superstar. Bahwa anak-anak membutuhkan
cinta, dukungan, dorongan dan perlindungannya. Bahwa melalui anak-anak
para orang tua diajarkan makna hidup, cinta, kesucian, kesabaran dan
sebagainya. Bahwa anak-anak melihat dunia luar dengan perantara jendela
sang superstar.
Dukungan dalam diri tidak akan berarti tanpa tekun dan sabar berlatih.
Sampai suatu saat hilangnya kekakuan dalam berhadapan dengan anak-anak.
Muncullah ayah yang dengan ikhlas membantu anaknya mengerjakan PR,
memandikan anak, mencuci baju dan belanja. Ayah yang membacakan buku
cerita untuk anaknya, mengantar anak les komputer.
Ayah-ayah inilah yang akan membuat dunia ini berputar dan menjawab
pertanyaan : “Where have all the fathers gone?” dengan “Here I am. Now and
forever!”
.C.I.N.T.A.
Ada banyak bentuk cinta yang tak tereksprsikan oleh indahnya kata
mewahnya hadiah, atau senyum yang merekah
Namun ia dapat dirasakan
Ya, seperti oksigen yang sering kita hirup,
tak terlihat namun manfaatnya dapat dirasakan
Begitulah juga kita dapati arti cinta seorang ibu pada anaknya
ketegasannya, kekhawatirannya, serta kemarahannya
semua adalah bentuk cinta yang tereksprsikan dalam wujud lainnya.
dari seorang soft skill trainer :
Setia Furqon Kholid
Atau juga cinta seorang suami pada istrinya
yang mungkin tak terungkap oleh kata-kota gombal nan lebai
namun, ia mewujud kesetiaan, pengorbanan, dan tanggung jawab
Maka, jangan pernah tertipu
dengan manipulasi kata yang aduhai, kerlipan mata yang menawan
atau semua cara untuk menarik perhatian
Maka disini kita belajar
Jangan pernah salahkan mereka yang tak dapat mengekspresikan cinta dengan baik
boleh jadi, kesetiaan dan tanggung jawabnya lebih bernilai
dibandingkan mereka yang banyak mengumbar kata-katanya
Selamat mencintai dan mengekspresikan cinta
dalam naungan cintaNya
Ketika Cinta Memanggil
Ada tiada rasa dalam jiwa
Rindu akan memanggil Mu
Karna setiap jiwa tlah bersumpah
Setia hanyalah kepada Mu
Bila cinta ada di dalam jiwa
Wangi bunga dunia tanpa nestapa
S’gala yang dirasa hanyalah Dia
Hatikan memuja hanya padaNya
Ketika cinta memanggil
Gemetar tubuhku…
Ketika cinta memanggil
Hangatnya nafasku…
Ketika cinta memanggil
menderu Sang rindu…
Ketika cinta memanggil
Rindu…rindu…rindu kalbu
Memanggil-manggil nama Mu
Seperti terbang di langit Mu
Tenggelam di lautan cinta Mu
Berpadu kalbu yang rindu
Melebur menjadi satu
Bagai menari diiringi pelangi
Ketika cinta memanggil…
Surat dari Gaza untuk Umat Islam di Indonesia
Surat dari Gaza untuk Umat Islam di Indonesia
Untuk saudaraku di
Indonesia,
Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan
mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia, Namun jika kalian tetap
bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki
Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung
bumi ini, bukan demikian saudaraku?
Disaat saya menunaikan ibadah
haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya
sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis da’wah dari Jama’ah haji
asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada
sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah
ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya
berdecak kagum.
Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika
jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang digabung,
itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negeri kalian dalam
satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat
dibanding kalian yah?. wah, pasti uang kalian sangat banyak yah?,
apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang
menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa
saya dan kami yang ada di GAZA ini, tidak dilahirkan di negeri kalian
saja. Wah, pasti sangat indah dan mengagumkan yah?. Negeri kalian aman,
kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian.
Pasti para ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi
pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko dan para wanita hamil
kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka
inginkan.
Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku tidak seperti
di negeri kami ini, saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda
pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance
yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih
lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa
melahirkan diatas mobil, yah diatas mobil saudaraku!.
Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade
2 tahun lalu, namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan
menyapihnya hingga dua tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar
ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negeri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi
yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya, terkadang ditemukan mati di
parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah, itu yang kami
dapat dari informasi televisi.
Dan yang membuat saya terkejut dan
merinding, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus
Abortusnya untuk wilayah ASIA, Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian?
Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami
disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut?, sepertinya
kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini.
Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan
bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan, atau got-got
apalagi ditempat sampah? saudaraku! Mereka mati syahid, saudaraku! mati
syahid, karena serangan roket tentara Israel!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan
rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel,
Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan
perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang
akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini.
Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 desember (2009)
kemarin, Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600
diantaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula
sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza,
dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang
kembar, Allahu Akbar!
Wahai saudaraku di Indonesia,
Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh
dan berbuah, namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang
kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena kalian sulit mencari
rezki disana? apa negeri kalian sedang di blokade juga?
Perlu kalian ketahui, saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita
kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami
diblokade.
Kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai Tata Usaha
di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya
terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami.
Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru
saja melangsungkan pernikahan. Yah, mereka menikah di sela-sela serangan
agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah, diantara bunyi letupan
bom dan peluru saudaraku.
Dan Perdana menteri kami, yaitu Ust
Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga
baru tersebut.
Wahai Saudaraku di Indonesia,
Terkadang saya
pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau pembinaan
Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut, program
pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah
kalian baca, dan buku-buku pasti kalian telah lahap, kalian pun sangat
bersemangat bukan, itu karena kalian punya waktu.
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku. Satu jam, yah satu
jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk mengaji atau ikut pembinaan,
setelah itu kami harus terjun langsung ke lapangan jihad, sesuai dengan
tugas yang Telah diberikan kepada kami.
Kami di sini sangat menanti-nantikan hari untuk mengaji tersebut walau cuma satu jam saudaraku,
tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan
rukun-rukun mengaji, Seperti ta’aruf, tafahum dan takaful di sana.
Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami, Semua pegawai dan pejuang Hamas di
sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai nyanyian perang kami, saya
menghapal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana Dengan kalian?
Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz
anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal
al-qur’an, umurnya baru 10 tahun, saya yakin anak-anak kalian jauh lebih
cepat menghapal al-quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak
ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur
sekarang.
Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung
yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa
helai daun pohon kurma, yah di tempat itulah mereka belajar saudaraku,
bunyi suara setoran hafalan al-quran mereka bergemuruh diantara
bunyi-bunyi senapan tentara Israel? Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka
hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung Mereka rasakan.
Wahai Saudaraku di Indonesia,
Oh, iya, kami harus berterima kasih kepada
kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada
masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah,
kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami
rasakan disini.
Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi
kami di sini, termasuk kalian di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian
yang kami butuhkan saudaraku biarlah butiran air matamu adalah catatan
bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhuwah kalian
kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan
manfaatnya.
Oh, iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah
giliran saya Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada
telepon dan fax yang masuk Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan
surat yang lain lagi Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di
Indonesia.
Akhhuka…..Abdullah ( Gaza City ..1430 H)
(Shared By Catatan Catatan Islami Pages)
Yaa.. Rabb…
Alhamdulillahilladzi arsala rosulahu bil huda wa dinilhaq,
liyudzhirohuu `aladdiniqullihii walau karihal mussyrikuun,
Ashadu ala ilaahaillah waashhaduanna muhammadarrosululloh.
Segala Puji bagi Allah.. yang telah memberikanku segala nikmat..
nikmat iman.. nikmat sehat… nikmat hidup dengan mengemban amanah-Mu
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
yang maha pemberi keringanan di segala beban manusia
Engkau telah memberikan segala ujian dan segala beban
bukan berarti hamba akan lemah… bukan berarti hamba akan menyerah..
dan bukan berarti hamba akan kalah
Hamba yakin di dalam ujian itu pasti Kau di samping hamba…
Hamba percaya di setiap beban yang hamba pikul dengan kekuasaanmu Kau membantunya
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
dengan amanah ini tegakkan langkahku ini..
segala keinginan yang baik harus ada pengorbanan
demi yang terbaik….
fase ini harus kulalui..
takut akan menghalangi dan membatasi diri ini….
bantu hamba ya Rabb….
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
tangisan manjanya pecahkan sunyi kala malam menggantung
seakan menjawab tangis hamba di peraduan malam ini
dikala waktu ku mengadu pada-Mu
tak terasa tetitik air disudut mata ini…
memandang sepasang hati nan suci…
tersenyum terbuai dengan mimpi-mimpi indahnya…
menggeliat saat kukecup keningnya…
inilah saat paling bahagia di setiap malamku…
memandangnya, memeluknya,mengelusnya, mengecupnya, …
sebagai suatu yang dapat meredam perih ini…
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
Alirkan semua rahasia dimalam ini…
mungkin akan memberikan arti semua cinta
abi disini pasti untuk kalian….
berjuang untuk mu adalah kebanggaan buat abi..
hanya balasan tawa dan kebahagian kalian berikan
sangat indah….
senyum dan manjamu …
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
Karunia Allah yang tak terbatas nilainya..
Anugrah yang paling spesial dalam hidup
kan terus kujunjung amanah ini
sampai batas waktu dan umur hidup ini…
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
bantu kami dalam melangkah ini ya Rabb…
kegelisahan yang kau berikan….
berikanlah kami kemudahan-kemudahan dalam hidup hamba
bersamamu adalah kekuatan menghadapi lembaran
lembaran yang telah kau gariskan untuk kami hadapi.
Yaa.. Allah..Yaa Rabb…
berikanlah kebahagiaan untuk buah hati kami..
agar tawa dan canda mereka terus dan terus diberikan kepada hamba
agar hamba terus tawadu’ dan terus bersyukur…
kepadamu ya Rabb….
karena hanya denganMu hati ini akan tenang
karena denganMu kami bisa bertahan
karena disampingMu kami berani melangkah
karena bantuanMu kami tetap terjaga
karena kekuatanMu kami berdiri
karena rejekiMu kami jalani rencanaMu
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,
niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
BERCERMIN DIRI
BERCERMIN DIRI
Abdullah Gymnastiar
Tatkala kudatangi sebuah cermin
Tampak sesosok yang sangat lama kukenal dan sangat sering kulihat
Namun aneh , sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat
Tatkala kutatap wajah , hatiku bertanya .
Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ?
Ataukah wajah ini yang kelak akan hangus legam di neraka Jahannam
Tatkala kutatap mata, nanar hatiku bertanya
Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan….
Menatap Allah , menatap Rasulullah , menatap kekasih-kekasih Allah kelak ?
Ataukah mata ini yang terbeliak , melotot , menganga , terburai menatap
Neraka Jahannam………..
Akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan ?
Wahai mata , apa gerangan yang kau tatap selama ini ?
Tatkala kutatap mulut , apakah mulut ini yang kelak akan mendesah penuh
kerinduan .. Mengucap laa ilaaha ilallah saat malaikat maut datang
menjemput ?
Ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur , dengan lengking
jeritan pilu yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengar.
Ataukah mulut ini menjadi pemakan buah zaqum jahannam ..yang getir
penghangus , penghancur setiap usus.
Apakah gerangan yang engkau ucapkan wahai mulut yang malang ?
Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan ?
Berapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang
mengiris tajam
Berapa banyak kata-kata manis semanis madu yang palsu
yang engkau ucapkan untuk menipu ?
Betapa jarang engkau jujur.
Betapa langkanya engkau syahdu memohon
agar Tuhan mengampunimu.
Tatkala kutatap tubuhku.
Apakah tubuh ini kelak yang akan penuh cahaya …
Bersinar , bersukacita , bercengkrama di surga ?
Atau tubuh ini yang akan tercabik-cabik hancur ,
mendidih ,
di dalam lahar membara jahannam , terpasung tanpa ampun ,
derita yang tak pernah berakhir
Wahai tubuh , berapa banyak maksiat yang engkau lakukan ?
Berapa banyak orang-orang yang engkau zalimi dengan tubuhmu ?
Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau
tindas dengan kekuatanmu ?
Berapa banyak perindu pertolongan yang engkau acuhkan tanpa peduli
padahal engkau mampu ?
Berapa banyak hak-hak yang engkau rampas ?
Ketika kutatap hai tubuh
Seperti apa gerangan isi hatimu
Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu
Atau sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu
Apakah hatimu segagah ototmu
Atau selemah daun-daun yang mudah rontok
Ataukah hatimu seindah penampilanmu
Ataukah sebusuk kotoran-kotoranmu
Betapa beda ..betapa beda …apa yang tampak di cermin
dengan apa yang tersembunyi
Betapa beda apa yang tampak di cermin dan apa yang tersembunyi
Aku telah tertipu , aku tertipu oleh topeng
Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah topeng belaka
Betapa pujian yang terhambur hanyalah memuji topeng
Betapa yang indah ternyata hanyalah topeng..
Sedangkan aku … hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus
Aku tertipu , aku malu ya Allah
Allah ..selamatkan aku..Amin ya Rabbal ‘alamin
-
Recent
-
Links
-
Archives
- December 2011 (1)
- October 2011 (2)
- January 2011 (1)
- December 2010 (1)
- September 2010 (1)
- August 2010 (1)
- June 2010 (1)
- April 2010 (1)
- December 2009 (2)
- November 2009 (3)
- September 2009 (1)
- July 2009 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
