Jika aku mencinta……
Ya Allah, jika aku mulai mencintainya,
Jadikanlah cinta ini kepada melabuhkan cintanya padaMu,
agar bertambah cinta ini tidak melebihi cintaku kepada-Mu
Ya Allah yang maha rahman, jika aku merindukannya,
mohon jaga rinduku pada seseorang yang selalui rindu di jalanMu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya
agar aku tidak melupakan rinduku pada jannah-Mu .
Ya Allah,ketika aku menikmati cinta ciptaan-Mu
jangan kau lalaikan kami
bahwa hal terindah adalah bermunajat kepada-Mu
Ya Allah, jika aku mencintai pilihan-Mu,
peliharalah cinta dan sayang kami
agar kami selalu mencintainya karena-Mu
Ya Allah, ridhoi kami hidup bersama
ingatkan kepada kami
agar kami tidak melupakan keberadaan-Mu di sisi kami
Ya rabb,jika aku mulai menyayanginya,
jagalah rasa sayang ini padanya
agar tidak melebihi rasa sayang ku kepada-Mu.
Ya Rabb, jika hati ini mulai tenang,
tenangkanlah hatiku padanya
agar tidak berpaling dari-Mu.
dari-Mu cinta ini kuberikan
dari-Mu rindu ini kurasakan
dari-Mu sayang ini kujaga
Karena ku cinta karena-Mu
Karena ku rindu karena-Mu
Karena ku sayang karena-Mu
…………
… adalah hakmu, anakku
harap….
asa……
adalah do’a darimu nak,…
Benar adanya, anak adalah investasi orangtua kelak
hati orangtua mana yang tak bahagia
bila nanti di akhirat ditolong oleh anak-anaknya
di tolong oleh do’a-do’a dari anak-anak mereka.
bila anak menangis di tengah malam
memohonkan ampun kepada sang khalik atas dosa orangtuanya
bila anak menjaga izzah
adalah balsanmu terindah yang kau berikan
abi sadar…
semua tergantung dari goresan tinta
goresan tinta di lembaran putih hatimu
adalah hakmu, anakku….
mengenalkan Islam agar kau berpegang teguh pada-Nya
adalah hakmu, anakku….
meminta abi mengajarkan akhlakmu
adalah hakmu, anakku
meminta abi untuk menceritakan kisah Rasul-Mu
adalah hakmu, anakku
mengajarkanmu tuntutan sholat agar kau selalu dekat dengan-Nya
adalah hakmu, anakku….
meminta abi mengeja ayat-ayat-Nya agar kau mengamalkan-Nya
adalah hakmu, anakku….
mendapatkan pemimpin yang menuntunmu menuju janah-Nya
adalah hakmu, anakku….
mengarahkan kau di jalan yang terbaik
Alangkan indahnya bila di dalam keluarga terdapat rasa saling membutuhkan
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga selalu melafazkan asma-Nya
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga berjama’ah bersujud kepada-Nya
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga bersama memohon ampunan-Mu
Alangkah indahnya bila di dalam keluarga saling menasehati dan mengingatkan
Alangkah Indahnya jika tiap gerak adalah ketaatan kepada-Mu
Alangkah Indahnya tiap nafas terucap tasbih-Mu
Alangkah Indahnya jejak melangkah kepada-Mu
Alangkah Indahnya jika kau balas cinta ini dengan rahmat-Mu
Alangkah Indahnya jika ikhtiar ini kau balas dengan rejeki-Mu
Abi cinta kalian karena Allah…
abi akan belajar semua..
abi akan lebih berusaha
berusaha memberikan hak-hakmu, anakku…
Abi mencintai kalian karena Allah….
Salam sun sayang buat anak-anaku dan bunda
Najwa dan Aflah adalah bagian dari hati ini.
at my desk,11 March 2009
Amanah-Mu yang kurindu
Bersama jalani garis lintas-Mu
Inilah yang mengisi lembaran
Semakin terisi semua dibenak
Anggun yang melintas
Yang semakin menyayat
Angan terus melayang terbumbung
Nun jauh…jauh tanpa kuraih
Gak hanya bayang yang ada
Nampak senyum mengembang
Adakah asa yang tersisa
Jejak masih terbesit dan tertanam
Walau tak disisi menyendiri
Ambil sisa pedihku
Damai diri yang ada
Amanah-Mu adalah lahan ibadah
Niscaya bertemu di Jannah-Nya
Alam yang Kau cipta
Fana tuk kupijakkan
Lama hanya sementara
Ada yang kekal menanti disana
Hanya pertemuan-Mu lah ku harap
…………………………….
……..Seandainya Aku tahu…
Terima kasih atas semuanya
3 tahun kita selalu bersama
bercanda…
bercerita…
perhatianmu…..
rasa sayangmu….
cemasmu….
gelisahmu…
sangat indah ….
terkenang walimah sederhana kau ikhlas menerimanya…
bersamaku kau jalani sisa hidupmu…
Ternyata Allah sangat sayang padamu, sehingga lebih cepat kau di sisi-Nya…
kau titipkan amanah kepada ku,
dan akan tetap aku jaga dengan segenap kemampuanku…
Semoga mereka menjadi anak soleh dan solehah
yang selalu mendo’akan orangtua dimana itu adalah bekalmu disana…
Ya Allah ..
Lapangkanlah kuburnya…
jauhkanlah dari siksa kuburnya…
dan jadikanlah khusnul khotimah …
Maafkanlah segala dosa-dosanya baik sengaja ataupun tidak…
Leburkanlah Ya Allah….
Terima lah semua amal kebaikannya Ya Allah…
Semoga Ilmu yang telah dia berikan kepada anak didiknya
selalu bermanfaat bagi yang menerimanya
sehingga terus mendapatkan kebajikan-kebajikan yang tiada akhirnya….
Andai ku tahu…
aku takkan pernah meninggalkanmu sedetikpun
Andai ku tahu
takkan ku lalaikan apapun maumu…
Andai kutahu…..
takkan kubiarkan kau letih membantuku..
………Seandainya Aku tahu
Di sini Engkau beristirahat dengan tenang.
Panas sedikit menyengat di kulit..
Dengan pohon Kamboja yang melindungi kami diantara gundukan makam-makam tua…
Ku melangkah ke satu makam yang masih baru..
Ya… terbilang baru karena baru berumur 2 minggu…
Assalamu’alaikum ya Ahli kubur Santi Rahayu…. salam ku sambil kupegang nisannya….
Nisan ini terukir namamu
SANTI RAHAYU Binti TARYANTO
lahir 17-08-1981
Wafat: 03-12-2008
Engkau masih muda sekali dengan dua orang anak yang engkau lahirkan…
Engkau telah mempercayakanku sepenuhnya untuk menjaga dua buah hati kita…
Hati mana yang tak pilu, engkau terbujur kaku didalam tanah ini …
Semoga cahaya kebaikanmu di dunia sebagai penerangmu disini..
Semoga amal ibadahmu sebagai temanmu disini…
Semoga Do’a kami akan melapangkanmu dialam ini..
Semoga pengorbananmu mendapatkan tempat terbaikmu disini….
Setiap jiwa pasti akan merasakannya.
Merasakan satu hal yang mereka sebut sebagai kematian.
Setidaknya memang begitulah yang Allah katakan dalam firman-Nya.
Dan kamipun menyadari sepenuhnya.
Kupegang Nisan ini seakan merasakan memegang keningmu….
Do’a dan harapan ku panjatkan untukmu…
Ikhlas ku rela mendahului kami agar kau tenang
Semoga anakmu kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah
Dimana akan menjadi penyelamat kita di akherat nanti..
InsyaAllah….
Ku beranjak dari tempatku…
Kulangkahkan kaki ini dengan segala harap dan asa…
Melangkah dalam rahmat dan ridha-Nya.
Semoga dipermudah segalanya…di ringankan segala urusannya…
Aku mengharapmu yaa Rabb …
Untuk hidup yang lebih baik. InsyaAlloh …
Cirebon, 11:30AM, 25 Dec 08
semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
Cirebon, 3 Dec 2008
Pagi itu raut muka kembali bersinar…
rasa sakit kau simpan agar kekhawatiranku membias…
Selamat pagi sayang….
sembari kukecup kening yang dingin itu…
kau paksakan semuanya kembali pulih…
kau paksakan memegang dan mencium tanganku dengan tangan yang bergetar…
maafkan abi, bunda…
sesaat Hp ku berbunyi, nampak profile ibu di display..
” ada apa mak..(ibu)..”
” Santi gimana ..???”
” Udah baekan mak..” sudah banyak perkembangannya”
” Can,… Aflah demam tinggi…. bisa ke Jakarta hari ini, can..?
besok ke Cirebon lagi …”
” inngih mak..”
Aflah anak keduaku demam tinggi, cemas dan bingung kurasakan…
“Bunda.. Aflah sakit demam, abi boleh pulang sebentar…?
“Besok pagi Abi ke sini lagi…Boleh ..??
“Boleh…” itulah ucapan yang aku dengar.. kuliat kecemasan didinginnya raut muka dan kecemasan hatimu..
Kucium kembali dahi istri yang mulai berkeringat dingin…. kugenggam erat tanganmu..
Inilah saat yang sangat di sukai rasul kita… bermesraan dengan istri adalah sadakah ..
saat tangan suami istri saling menggenggam InsyaAllah dari sela-sela jari bergugurlah dosa-dosa kita…
Saat berpamitan kau paksakan untuk memeluk dan mencium tanganku..
dengan berbisik..
“maaf ya abi,….” hanya itu yang aku dengar…
tak kurasa titik-titik air mataku bergerai..”
Iya … abi juga minta maaf ya.. bunda….
Abi .. ke jakarta dulu …. besok abi pasti kecirebon lagi…
Anggukan dan tatapan mengiringiku meninggalkan kamar perawatan… walau hati ini sedikit resah…
Resah, khawatir, bingung….
Disisi istriku terbaring lemah di Rumah sakit Cirebon…
di sisi lain puteraku demam tinggi…yang mana belum kuketahui persis keadaanya…
Jam 7 malam ku sampai jakarta…
kupeluk erat anak kedua ku…
badannya panas dan rintihan terus kau ucapkan…
pujian dan do’a terus kupanjatkan untuk-MU…
memohon… menangis… hanya Engkaulah sang maha Penyembuh….
Alhamdulillah jam 9 malam Aflah sudah tenang dan tertidur… walau masih sedikit demam…
ku peluk dan kuliat kedua anak ku yang tertidur pulas…
Terima kasih Ya Allah…. kau telah memberikan buah hati yang sangat cantik dan tampan…
kukecup kening putri pertamaku Najwa dengan barisan do’a agar kelak menjadi mujahidah yang berkualitas…
menggeliat tubuhnya karena kecupanku… seakan merasakan akan kehadiranku….
Tak lama kemudian… Hp ku berbunyi kali ini dari Ayah Istriku…
“Ya pak.. ada apa….”
“Candra… Santi sekarang kritis…”
Terperanjat ku dari tempat tidurku….
“Dokter ada di situ pak…?”
“Iya… sekarang sudah di tangani..”
Cemas,…khawatirr,…Bingung,…. seakan menyerah dan menghantam tubuhku dari segala arah…
Berdo’a .. berdo’a dan terus ku berdo’a …
Semuanya ku serahkan kepadamu ya Allah…
Engakulah sang maha Penyembuh…
Engakulah sang maha Keputusan…
Jika Engkau berkehandak menyembuhkan maka sembuhkanlah segera ya Allah….
Hamba tidak pernah tahan melihat orang tersayang hamba menggigil, meradang, kadang menangis menahan sakit…
Jam 10 malam kembali ku hubungi Ayah istriku…
Sekarang Istriku dalam keadaan taksadarkan diri….
Istriku dalam keadaan koma….
Ya.. ALLAH…. jangan kau siksa istri hamba ini ya Allah…
Ya Allah… jika engaku belum menghendakinya…Sembuhkanlah kembali istriku ….
Jika engaku sayang padanya… Ambilah ya Allah dalam keadaan khusnul khotimah ..
Ambilah dengan sebaik-baik hambaMu ya Allah….
segala do’a dan pujian terus mengalir di hati….
memohon yang terbaik bagi kami dengan kuasa-Nya…
kurang dari satu jam… Dokter yang merawat istriku menelpon…
Asaku mulai timbul… semoga semuanya lancar….
“Hallo.. Dok..”
“Pak candra… mohon maaf… Istri bapak sudah tidak ada…
kami telah berusaha semampu kita pak…”
badanku tak terasa… Hatiku bergunjang…. kosong… semuanya kosong…
dengan lirih kuucapkan.. Innalilahi wa innalilahi roji’uun…
“Terima kasih Dok…” seraya tubuhku melayang tak tersasa…
ku tersungkur ditubuh Ibuku dengan dengan tangisan yang tak pernah ku lakukan semenjak Meninggalnya Ayahku..
Tangisan kehilangan… Tangisan yang terbendung…
Rasa bersalah menyelimuti diri…
Disaat istri sedang berjuang dengan maut… aku suaminya tak ada disampingnya….
Ya Allah… Apakah ini yang terbaik bagi kami ya Allah….
Jika Iya.. Saya dan Anak-anak saya akan ikhlas dengan kejadian ini…
Tapi tabahkanlah kami ya Allah…
Kuatkan hati kami ya Allah…
Santi….
Ternyata…. Ciuman itu adalah ciuman terakhir darimu….
Ternyata…. Senyuman itu adalah senyummu yang terakhir untukku…
“maaf ya abi”….iya Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang keluar dari sudut bibirmu..
Terima kasih Santi…istriku
Kau telah memberikan dua buah hati sebagai penggantimu…
Kan kujaga dia dengan segala kemampuanku…
kau telah menemaniku disaat senang dan sedih…
melayaniku… menasehatiku…
membangkitkanku pada saatku jatuh….
memberiku semangat saat ku terpuruk…
Allah sangat sayang padamu sehingga kau lebih cepat disisiNya.
Semoga kau lapang dialam-Nya…
mendapatkan tempat yang terbaik…
jauh dari siksa kuburmu…
Abi akan mencoba Ikhlas agar kau tenang disana…
semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
Abi sangat sayang Bunda…..
Terima kasih Bunda….
Bocah Misterius
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang.
Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.
Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak
remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini
bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda
dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya
memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap
dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat
diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila
orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!
Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan
puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar
dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja
menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa,
karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu
ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung
mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah
kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan
roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian
dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.
Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya
akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat
mundur semua orang yang akan melarangnya.
************ ********* **
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah
itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda
zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama
dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan
es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang
lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es
kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain
menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya
takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar Luqman.
“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali
mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.
Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian,
ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga
akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya
bocah itu.
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi
mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun
menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu,
dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan
tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang
melihatnya.
“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan
menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan
saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada
Luqman.
“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan
puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu,
bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya
ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang
dengan tingkahmu itu..”
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan
uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah
itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman
lebih tajam lagi.
“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami
semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal
ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan
kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami
yang kelaparan, dengan menimbun harta
sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan
melupakan kami yang sedang menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila
sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian
mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga
kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran
waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib
terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?”
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi
kesempatan pada Luqman untuk menyela.
Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia
berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk,
kini ia bersuara lirih, mengiba.
“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa
ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya
bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa
kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
siang saja.
Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang
di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami
dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu
kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam
mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi
banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya
denga istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di
saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun
hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah
yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali
termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara
berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan
orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan
melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di
sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta,
tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan
adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih
menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap
kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun,
jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
menyatu dengan bumi kelak…”
************ ********* *
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan
hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari
mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut
adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini
bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu,
bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang
dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak
ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah
hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia
edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa
dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua
orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng
bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran
didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu
keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah
menghilang!
Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar
langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan
bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak
masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk
akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang
dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan
pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan
orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang
tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka
yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa
seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang
sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali
menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang
berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan
terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan,
sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan
lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah
memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau
menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau
dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua
orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya
orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa
saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir.
Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan
tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada
seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia
salah.
dapet dari milis mohon ijinnya dicopy paste karena memang pantas disebarluaskan.
Mensikapi Pengkritik
Sepenggal Kenangan Bersama Ustadz. Hasan Al banna Dalam Mensikapi Pengkritik
Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum al-Ahraam telah membuat Sang Imam dan murid-muridnya gelisah. Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah, tiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Maka ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan di tengah masyarakat Mesir.
Maka para ikhwan yang merasa marah, langsung membuat artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum yang sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus seorang ikhwan bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari Sang Imam.
“Ya, Ustadz. Bagaimana pendapat anda?” tanya Mahmoud pada Sang Imam yang tampak terdiam lama setelah membaca artikel bantahan itu.
“Akhi…” Sang Imam menatap Mahmoud. “Artikelmu ini sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu. Tapi…”
“Tapi apa ya, Ustadz?” tanya Mahmoud heran. Wajah Sang Imam yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya artikel bantahan yang tergenggam di tangannya.
“Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari tulisanmu ini jika ia jadi dimuat,” ujar Sang Imam pelan sambil kembali menatap Mahmoud.
“Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu sangatlah tajam, menusuk hati kaum Muslimin. Sementara konsumen pembaca harian al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan. Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan serius.”
Mahmoud menyimak uraian Sang Imam dengan hati bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu.
“Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel tersebut, maka akan timbul beberapa titik rawan. Diantaranya, justru akan mengekspos artikel tersebut dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan kembali terpancing untuk membaca dengan serius. Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang bisa saja mendatangkan mudharat bagi orang-orang yang berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita diamkan saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan sendirinya,” tutur Sang Imam pelan. Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan itu, meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.
“Akhi, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN YANG AKAN MEMANCING SIKAP KERAS KEPADA BAGI YANG DIBANTAH. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah, tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA KESALAHANNYA. Ketahuilah, Akhi, si Fulan itu telah terpengaruh oleh sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan aku melihat, TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN APA YANG MENJADI KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN DENGAN CARA MENGHALALKAN SEGALA CARA.”
Sang Imam diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk di hadapannya masih menunggu kelanjutan kalimatnya dengan raut serius.
“Akhi, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam kesalahan itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara tidak langsung kita telah menghalangi pintu taubat baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN PINTU KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG SEBENARNYA MENJADI HAK DIA. Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari hidayah Allah. Begitulah pemikiranku. Bagaimana menurutmu, Akhi?” Sang Imam menutup penjelasannya.
Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Imam adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh kharisma dan telah melebur ke dalam kancah dakwah secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Allah telah menjadikan pandangannya demikian luas, nalurinya peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan. Ya, ia telah dianugerahi bu’dunnazar (pandangan yang jauh ke depan), sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang biasa.
Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya wajah Sang Imam sambil tersenyum. “Anda benar sekali ya, Ustadz. Saya setuju dengan pendapat anda.”
Sang Imam pun tersenyum melihat muridnya mau memahami apa yang ada dalam pikirannya. Maka perlahan dirobeknya artikel yang tergenggam di tangannya saat itu.
***
Epilog
Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah kemudian yang mencatat bahwa ia telah menjelma menjadi sosok paling heroik di kancah dakwah.
Ia telah tercatat sebagai salah seorang prajurit Islam yang gagah berani, yang menyuarakan kebenaran dengan suara lantang meski penjara mengurung jasadnya selama pemerintahan Gamal Abdul Nasser. Ia telah mempersembahkan kepada ummat, tafsir Al-Quran yang sangat luar biasa Fi Zilalil Quran, yang ia tulis selama di dalam penjara. Ia telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di Mesir dan menutup sejarah hidupnya sebagai seorang syuhada di tiang gantungan pada tanggal 29 Agustus 1966.
Dialah… Sayyid Quthb rahimahullah !
Bersabar Menunggu Panggilan
Seorang pria berumur 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya
dengan membuka sebuah toko berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota
Bandung. Tiada yang mendampingi hidupnya di rumah selain Asih, istrinya.
Sudah puluhan tahun berumah tangga, Allah Swt Sang Maha Pencipta belum berkenan
memberikan mereka keturunan.
Namun baik Asep dan Asih adalah model hamba Allah yang menerima segala
ketetapan. Mereka selalu menghiasi hidup dengan pengharapan terhadap Allah
SWT.
Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala
ujian yang diberikan. Hampir dua puluh tahun mereka menabung demi mewujudkan
cita-cita. Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan dalam hati, untuk
berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah. Dengan hasil dagang di
toko yang seadanya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk menggapai
cita-cita itu. Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang belum pernah mereka lakukan.
Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam dada seorang hamba yang
rindu akan keridhaan Rab-nya. Hasil tabungan yang mereka kumpulkan tidak mereka
tabung di bank. Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan agar dapat memotivasi
semangat mereka untuk mencari tambahan uang sesegera mungkin. Sungguh dua puluh tahun
dalam menabung, merupakan masa yang cukup panjang untuk bersabar demi
mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT. Tidak banyak, manusia modern di zaman sekarang
yang mampu memiliki niat sedemikian.
Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang
yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000.
Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang, belum
lagi biaya bimbingan haji yang harus mereka ikuti, ditambah dengan uang jajan
tambahan untuk membeli oleh-oleh. Mereka menghitung, kurang lebih mereka
memerlukan dana berkisar Rp 10 juta.
Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan
mereka, dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji. Suatu
pagi, Asep mendengar kabar bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid
As Shabirin jatuh sakit secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan
Sadikin.
Setelah divisum oleh dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga
sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang
terjadi pada masyarakat Indonesia.
Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu. Sesampainya di sana,
sahabat tersebut masih berada di ruang ICU dan untungnya masih sadarkan diri
sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui
bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri
lagi, dan tumor tersebut harus diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor
tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia
masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa
kepada Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.
Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu. Pada hari kedelapan,
sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3, bersama tujuh
pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak
layak disebut sebagai kamar rumah sakit. Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju
pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur
yang tidak rapi. Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua
membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata,
tetangganya adalah seorang yang mungkin memilik nasib sama dengan jutaan
orang di Indonesia. Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu
bayarnya pakai apa?
Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan
Asep sedang berada di sana, seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah
sakit bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah
dijalankan sebuah operasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta.
Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus
dilakukan. Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal
berdoa saja agar terjadi keajaiban.
Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap
sedemikian. Namun mau bilang apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah
menguras habis tabungan yang mereka miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah
sakit selama ini saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi?
Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt. Hari
kedua belas, ketiga belas, keempat belas.. kondisi pasien semakin parah.
Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam
sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan
bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh.
Pemandangan itu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir
ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.
Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya, ia bergegas pulang menuju
rumah.
Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko
sederhana milik mereka. Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan
keputusannya itu kepada Asih. “Bu., Kang Endi tetangga kita yang sedang di
rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat
penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya. Tiga hari
lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster memberitahukan bahwa Kang
Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani menyatakan iya, sebab biaya
operasi itu hampir Rp 50 juta..” Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat
yang panjang. Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan
keluarganya,
“Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa.?” Asep pun langsung menyambung
dengan cepat, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita
diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Kalimat itu
diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep. “Diberikan..?!! Waduh pak.,
hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah agar cita-cita berhaji dapat
diwujudkan. Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain yang bukan
saudara kita?” Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya.
“Bu.., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin
ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya
berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak
yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh
Dia Yang Maha Kuasa.” Kalimat itu meluncur dari mulut Asep dan menohok relung
hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk
dan setuju atas usul suaminya.
Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk
menjenguk. Toko mereka ditutup hari itu. Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan
membawa
sebuah amplop tebal berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka
siapkan untuk berhaji. Keduanya tiba di rumah sakit dan menjumpai Kang Endi
dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya datang
kepada istri Kang Endi. Mereka serahkan sejumlah uang tersebut, dan suasana menjadi
haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah
oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan saat dimana
keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan. Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah
setelah berpamitan kepada keluarga.
Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke
bagian administrasi rumah sakit. Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi.
Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang
Endi akan dilakukan. Alhamdulillah! Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang
operasi.Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani
Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi
berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu., darimana dana
operasi ini didapat?” Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia tahu
sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu
menyediakan dananya.
Istri Kang Endi menjawab, “Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang
membantu, Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!” “Memangnya, beliau usaha
apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak
Asep adalah seorang pengusaha sukses. “Dia hanya punya usaha toko kecil di
dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan
bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan.
Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya.
Hatinya mulai tergerak dan berkata, “Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil
saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya,
tidak tergerak untuk membantu sesama.” Suara hati itu terus membekas dalam
dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.
Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4
jam lebih. Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh
keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira. Kang
Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Pak Asep masih sering
menjenguknya. Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang
Endi dan pak Asep pun sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter
memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu
kepada Pemiliknya, yaitu Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta
alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.
Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep
dan Asih tengah berada di rumahnya. Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada
sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan
wanita turun dari mobil tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah
keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep. Begitu mendekat, tahulah pak
Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya
kemarin.
Gemuruh suasana hati Asep. Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak
dokter bersama istrinya. Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima
tamu agung seperti malam ini. Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk.
Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat dalam
pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung.
Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Maka
pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep
dan istri.
Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri
yang telah rela membantu tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup
besar.
Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi
pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di
bangku kuliah. Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep
dengan bahasa yang selalu merendah.
Tiba saat pak dokter berujar, “Pak Asep dan ibu.., saya dan istri berniat
untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan
kami dimudahkan Allah Swt. Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan
ibu akan dikabul oleh Allah.” Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan
kalimat,
“Amien.!” Pak dokter menambahkan, “Selain itu, biar doa bapak dan ibu
semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri, ada baiknya bila bapak dan ibu
berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah.”
Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih
sehingga membuat mereka berani menanyakan, “Maksud pak dokter..?” “Ehm.,
maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji
bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”
Kalimat itu berakhir menunggu jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tidak
kunjung datang hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara
bersamaan. Beberapa menit keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana
milik Asep dan Asih. Seolah bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para
hamba-Nya yang senantiasa mencari keridhaan Tuhan. Asep dan Asih hanya mampu
mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur
sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan kepada Allah
Yang Maha Pemurah. Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji di Baitullah
demi mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.
Sungguh, kesabaran panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan
berbuah di tangan Allah Swt menjadi balasan yang besar dan anugerah yang
tiada terkira.
Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung
Musibah … atau Peringatan…
Segala sesuatu pasti akan kembali kepada sang Pemiilik…
Musibah selalu datang dan terjadi kepada setiap umat manusia di dunia ini. Tinggal bagaimana kita menyikapi dari pada musibah tersebut.
Bisa Jadi Musibah ditujukan untuk menguji keimanan (QS 29: 2-3). Sebab, seorang yang mengaku beriman kepada Allah belum tentu sungguh-sungguh beriman. Karenanya, Allah perlu menguji mereka yang mengaku beriman dengan sesuatu.
Atau bahkan Musibah terjadi sebagai pengalaman dan pelajaran yang berharga agar kita lebih berhati-hati, lebih terencana dalam bertindak dan bersikap.
Bermula mencoba mencari tambahan rejeki dengan membuka toko busana muslim, aku memberanikan diri untuk menyewa toko sekitar 25 juta pertahun.
Hari pertama pengunjung masih sepi dan tanpa ada pembeli satupun. Setidaknya aku bersyukur karena masih ada juga yang mengunjungi tokoku. Hari kedua dan ketiga dan keempat lebih baik karena ada beberapa pembeli yang bersedia membeli daganganku.
Musibah terjadi pada saat hari kelima daganganku. Pegawaiku kena hipnotis dari salah satu pengunjung, raib lah uang daganganku ratusan ribu.
Panik, takut dan berbagai macam pikiran berkecamuk dalam pikiranku.
Istriku tak kalah paniknya dan kami sepakat untuk menutur toko yang baru 5 hari buka. Dan memang daerah yang kami sewa tidak kondusif, tidak aman dan rawan.
Terpaksa harus kami oper kontrak toko yang sudah kami renov…
Allah telah memberikan cobaan kepada keluargaku…
sesaat aku menyalahkan diri sendiri…
Sesaat aku berandai-andai .. coba saja kami ga nekat buka toko..
coba kami buka d rumah saja …
bisikan-bisikan setan terus membuat penat ….
Astagfirullah.. Sadar kami takkan bisa mengulang kembali masa yang telah berlaku..
Allah telah memberikan suatu hikmah yang luarbiasa kepada kami, suatu pelajaran yang sangat berharga kepada kami. Agar kami lebih berhati-hati dan merencanakan segala hal dengan matang dan memikirkan resiko-resiko yang kemungkinan terjadi.
Ya Allah ku tetap bersyukur kepada-Mu ..
Kau telah mengingatkan ku untuk takut kepada-Mu..
Tak kan ada makhluk didunia ini yang mampu mengalahkan-Mu…
Kami akan selalu berusaha sepenuh kekuatan yang kami miliki..
Untuk bangkit… dengan Prinsip
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memproleh selain apa yang telah di usaha kannya. (QS.53:39)”
Ya Allah mudahkanlah langkah hamba-Mu ini.. ya Allah
Maafkanlah segala kekurangan dan kesalahan kami yang tiap hari kami lakukan baik dalam keadaan sadar maupun tak sadar……….
Bekerja keraslah kamu untuk duniamu seolah olah kamu akan hidup selama lamanya, bekerja keraslah untuk akhirat kamu seolah olah kamu mati esok hari. HR Baihaqi.
Salam,
Abu Najwa
-
Recent
- Jika aku mencinta……
- … adalah hakmu, anakku
- Najwa dan Aflah adalah bagian dari hati ini.
- ……..Seandainya Aku tahu…
- Di sini Engkau beristirahat dengan tenang.
- semua yang tercipta pasti akan kembali kepadanya..
- Bocah Misterius
- Mensikapi Pengkritik
- Bersabar Menunggu Panggilan
- Musibah … atau Peringatan…
- Mau kemanakah rejekiku…
- Diam Pada Saat Yang Tepat
-
Links
-
Archives
- April 2009 (2)
- March 2009 (2)
- January 2009 (2)
- September 2008 (1)
- August 2008 (3)
- June 2008 (1)
- May 2008 (2)
- April 2008 (1)
- March 2008 (2)
- February 2008 (1)
- January 2008 (2)
- December 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS